SURABAYA, HarianBernas.com– Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya meneliti penyebab paus pilot terdampar di perairan pantai Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (17/6).
“Kami mengambil sampel tiga paus pilot yang sudah mati,” terang ketua tim peneliti, M Yunus di Surabaya, Jumat.
Ada berbagai penyebab terdamparnya paus pilot. Satu minggu yang lalu, kami telah memperkirakan ketika mengadakan pelatihan dan pendidikan terhadap beberapa ahli untuk penanganan mamalia laut yang terdampar, seperti dugong, paus, dan lumba-lumba di Situbondo. Dari laporan beberapa nelayan, ada migrasi koloni mamalia laut yang berputar-putar di perairan Probolinggo-Situbondo.
Salah satu penyebabnya, bisa jadi paus terdampar karena rob atau gelombang pasang yang tidak beraturan sehingga alur migrasi koloni paus pilot berputar-putar dan membingungkan. Migrasi mamalia ini sebetulnya beraturan. Mereka bergerak atas orientasi sensor otak dan saluran pernapasan, jelas M.Yunus
Dugaan lain, mamalia laut ini seperti masyarakat yang mempunyai pemimpin, penjaga koloni, pencari makan, hingga anggota. Ketika salah satu anggota koloni ada yang sakit, para anggota lainnya tidak mau berpisah. Mereka akan menjaga yang sakit sehingga ikut terdampar.
Sebab lainnya, paus pilot ini menghindari predator. Paus pilot ini seperti hiu paus yang memakan ikan lebih kecil. Dalam rangka mencari makanan, koloni paus pilot bisa jadi mengikuti alur ikan-ikan kecil, kemudian terdampar secara menyebar. Prediksi lain, yaitu mencari tempat yang nyaman, mungkin wilayah pesisir pantura ini nyaman, ujar M Yunus.
Dari 32 paus pilot yang terdampar, dengan kerja sama dengan dinas terkait, warga, dan institusi telah mengembalikan 20 paus ke laut lepas, serta sisanya, masih dalam penyelamatan.
Berbagai penyebab terdamparnya paus pilot telah diteliti M.Yunus bersama para peneliti lainnya, yaitu Ruth Tyas Adventine, Akbar Haryo, Muhammad Achsinul Fikri Ma'ruf, Dohan Mahendra, dan Happy Ferdiansyah.
