HarianBernas.com – Pada zaman dahulu para pembuat keris dari Jawa menggunakan bahan logam dalam meteorit dalam membuat keris yang memiliki kesaktian. Ternyata Firaun Tutankhamun dari masa Mesir Kuno lebih dahulu membuat belati dari bahan yang berasal dari angkasa luar.
Sebuah penelitian memastikan bahwa bahan besi dari bahan belati yang ada dalam makam Tutankhamun, bersama dengan sejumlah artefak berharga lain dari masa Mesir Kuno, berasal dari luar angkasa.
Dikutip dari Ancient Origins bahwa penelitian tentang hal tersebut dilakukan oleh ilmuwan yang berasal dari Milan dan Turin.
The Guardian memuat penelitian oleh Diane Johnson. Mereka memeriksa sejumlah benda bersejarah yang ditemukan di pemakaman Gerzeh, sejauh 70 kilometer di selatan Kairo. Benda tersebut berusia 3600 tahun sebelum masehi hingga 3350 tahun sebelum masehi.
Pemakaman untuk seorang pria berisi pot gading serta perhiasan yang terbuat dari emas dan besi dan sejumlah benda lainnya. Terdapat beberapa contoh langka artefak besi yang juga ditemukan dari beberapa tempat lain. Contoh yang paling mengejutkan adalah ditemukan makam Tutankhamun, termasuk sebilah belati dan gelang emas.
Johnson dan Tyledesley menggunakan mikroskop elektron dan CT sinar-X mikro untuk memeriksa permukaan artefak tersebut. Mereka juga memeriksa perhiasan besi dari makam Gerzeh, hingga terungkap bahwa struktur dan kimia besi diduga berasal dari meteorit.
Penelitan terkini membuktikan bahwa Johnson dan Tyldesley tersebut bena adanya. Bahan besi pada belati Tutankhamun mengandung nikel dan kobalt, yang biasa ditemukan pada meteorit.
Bukan hanya itu, peneliti perhiasan besi berusia 5.000 tahun dari Gerzeh membenarkan bahwa pada masa Dinasti ke-18, bangsa Mesir Kuno lebih maju dalam pengolahan besi yang berasal dari meteorit.
Para peneliti menduga bahwa besi meteorit itu sangat penting dalam budaya dan kepercayaan bangsa Mesir. Besi untuk belati dari makam Tutankhamun diyakini berasal dari meteorit yang jatuh di padang pasir.
Pada masa Mesir Kuno, manusia mulai membuat perhiasan pada 4000 tahun Sebelum Masehi. Tidak diketahui kapan mereka mulai menggunakan besi meteorit.
Struktur zat besi yang sama terungkap pada dua bilah belati Tiongkok yang berusia sekitar 1000 tahun sebelum masehi dan pada perhiasan besi Pribumi Amerika berusia sekitae 400 tahun sebelum masehi yang ditemukan di situs pemakaman Hopewell di Illinois.
Meteorit Hoba adalah meteorit terbesar yang dikenal di Bumi, sekaligus sebagai bentuk alami dari gumpalan besi di planet. Meteorit tersebut ditemukan pada tahun 1920.
Pada zaman sekarang, ilmu pengetahuan modern mampu menjelaskan tentang hujan meteor, petir dan badai, cahaya aurora, serta gerhana yang telah menjadi inspirasi mitos dan agama serta legenda. Pada zaman dahulu, meteorit dianggap sebagai pesan dari para dewa atau pertanda akan terjadi sesuatu.
Penyembahan bebatuan angkasa berlanjut bahkan hingga kehadiran meteorit moderen. Sebuah Gereja Meteorit didirikan di kota Chelyabinsk setelah sebuah meteor mengguncang kawasan di Rusia pada tahun 2013 hingga melukai lebih dari 1.500 orang.
Meteorit merupakan benda penting bagi agama dan budaya dalam banyak peradaban. Bangsa Yunani Kuno dan Romawi Kuno percaya bahwa meteorit adalah hadiah dari para dewa.
Pada masa Yunani Kuno, sejumlah meteorit dipajang dalam kuil Dewa Apollo di kota Delphi dan menjadi obyek pemujaan. Bahkan, batu Hajar Aswad di Mekah juga sempat diduga sebagai meteorit, meski belum ada bukti nyata yang mendukung anggapan tersebut.
