HarianBernas.com — Hari Senin tanggal 26 September 2016 merupakan hari yang bersejarah bagi rakyat Kolombia. Pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak FARC sepakat untuk menandatangani kesepakatan damai permanen. Dicapainya kesepakatan damai ini sekaligus menjadi akhir dari perlawanan bersenjata FARC yang sudah berlangsung sejak dekade 60-an.
Penandatanganan kesepakatan damai dilakukan di Cartagena oleh Presiden Juan Manuel Santos dan pemimpin FARC, Timoleon Jimenez. Acara penandatanganan kesepakatan damai tersebut juga dihadiri oleh Sekjen PBB dan pemimpin-pemimpin negara Amerika Selatan. Semua peserta acara penandatanganan kesepakatan damai memakai baju putih untuk menyimbolkan perdamaian.
Jumlah tamu undangan yang menghadiri acara penandatanganan kesepakatan damai ini dilaporkan mencapai 2.500 orang. Hanya beberapa jam menjelang acara dimulai, organisasi Uni Eropa menyatakan kalau mereka sudah menghapus FARC dari daftar kelompok teroris.
Berdasarkan perjanjian damai ini, FARC akan diubah menjadi partai politik legal dan para anggotanya memperoleh pengampunan hukum. Kesepakatan damai ini sendiri tercipta setelah kedua belah pihak yang bertikai terlibat perundingan sejak empat tahun lalu di Havana, Kuba. FARC juga diharuskan menyerahkan seluruh stok persenjataannya ke PBB dalam waktu sekurang-kurangnya 180 hari.
Isi dari kesepakatan damai baru bisa dilaksanakan jika pada referendum yang akan digelar pada tanggal 2 Oktober nanti, mayoritas rakyat Kolombia bersedia mendukung pelaksanaan kesepakatan damai. Hasil-hasil jajak pendapat sejauh ini menunjukkan kalau rakyat Kolombia mendukung upaya perdamaian antara FARC dengan pemerintah Kolombia.
