HarianBernas.com– Dalam perjalanan hidupnya, Wahyu Indro Widodo S.S.T. Par, M.M.Par, selalu mengintropeksi diri karena sebagai manusia terkadang kita merasa pintar dan kita merasa superior. ?Tapi yang bijak adalah selalu introspeksi untuk bisa mengubah diri sendiri, menjadi lebih baik,?terangnya begitu rendah hati kepada Harian Bernas (14/10).
Saat ini, pendidik ini menjabat Kepala Program Pendidikan (Kaprodi) di Akademi Pariwisata (Akpar) Buana Wisata dan Wakil Ketua 3 di STIEBBANK. Selain sebagai pengajar, ia juga menjadi pengembang kecil-kecilan dan sedang menjalin kerjasama dengan PT Chocodot untuk home industri coklat.
Pria kelahiran Klaten ini pun mengungkapkan titik baliknya sehingga memilih menjadi dosen/ pendidik. ?Mungkin panggilan jiwa. Dulu sewaktu kuliah, saya menjadi pembantu dosen. Sering juga menulis tentang keadaan Indonesia. Saya simpulkan bahwa daya saing Indonesia yang paling rendah adalah SDM. Saya yakin orang Indonesia itu pintar-pintar, hanya kurang terarah. Untuk itu, saya coba berkontribusi langsung ke bidang pendidikan,? terangnya.
Menekuni usaha sebagai pemgembang, ia mengakui sebenarnya hanya kebetulan saja. ?Karena pengalaman bangun rumah sendiri, saya coba semua usahakan sendiri, tapi ternyata hasilnya lebih bagus. Menantang. Saya mencoba untuk membalikkan asumsi bahwa beli rumah di perumahan itu tak selamanya jelek, baik kualitas maupun estetika, serta semuanya. Jadi, tidak semua pengembang itu ?kemaruk? dengan keuntungan sehingga meminimalkan faktor kualitas,?urainya.
Ketika harus kembali ke Indonesia, ia sebenarnya merasa berat kalau dipikir-pikir. ?Sangat sayang ketika saya meninggalkan jabatan dulu sewaktu di luar negeri. Kebetulan ketika itu, saya sebagai Assistant Food and Beverage Director atau Asst.FnB Director, yang dari sepuluh ribuan tenaga kerja Indonesia, hanya ada 2. Saya salah satunya. Namun, bagi saya, harus bisa berbuat sesuatu di negara sendiri. Untuk itu, saya balik ke Indonesia dan meneruskan sekolah S2,? paparnya.
Saat ditanya tentang alasan menekuni bidang pendidikan yang digeluti sampai sekarang, ia menjawab sebagai panggilan jiwa, tantangan, dan pengabdian. ?Kalau yang pengembang, mengapa menekuni sampai saat ini, di Indonesia ini lebih dari 3 juta kepala keluarga belum memiliki rumah. Ini merupakan suatu peluang. Indonesia juga belum mempunyai karakteristik gaya bangunan atau rumah sendiri. Kalau gaya traditional banyak dari Joglo sampai dengan Rumbia dari Papua. Nah, idealisme saya, pengen memadukan antara itu semua menjadi produk Indonesia, bukan Jawa, bukan Spanyolan. Intinya, Indonesia,? bebernya.
Mantan Ketua KPI (Kesatuan Pelaut Indonesia) Cabang Seattle, USA, ini juga menceritakan pengalaman uniknya saat menekuni bidang pekerjaan sebagai pendidik dan pengembang. ?Pengalaman sebagai dosen, kadang kita merasa lebih tahu dari mahasiswa, tapi kenyataannya, mereka dalam sisi tertentu justru lebih smart. Kalau dari pengembang, ternyata pembeli rumah sekarang lebih detail. Justru di awal bisnis, saya banyak diajari oleh mereka,? katanya.
Permasalahan yang paling sering dihadapi alumni STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) AMPTA Yogyakarta di bidang pekerjaan pendidikan adalah masalah etos dan spirit, baik di subject yang dididik maupun obyek si pendidik. ?Kalau di bidang sebagai pengembang, selain permodalan, juga masalah birokrasi. Benar birokrasi sudah ada perubahan, tapi masih yang tingkat-tingkat business as usual. Mungkin Nawacita JKW perlu digalakkan sampai tingkat terbawah,? tukasnya.
Disinggung tentang tantangan ke depan yang akan dihadapi, alumni STIEPARI (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata) Semarang ini menjawab dunia pendidikan khususnya vokasi adalah the world is flat. Tidak ada lagi batas-batas ketenagakerjaan oleh negara MEA. ?Kalau kita tidak mempersiapkan bangsa kita maka peluang kerja yang ada di negara kita pun akan habis digempur oleh negara negara lain. Jadi, kita harus benar-benar mempersiapkan karena kalau tidak, kita digulung oleh perubahan. Kalau untuk tantangan di dunia properti, saya pikir pengembang harus bisa adaptasi dengan perubahan teknologi, bukan hanya sektor pemasaran yang sekarang lebih mendekatkan konsumen dengan pengembang, tapi teknologi seperti nano-teknologi membuat bahan menjadi lebih murah, tapi ironinya luas lahan semakin sempit. Jadi, harga tanah semakin lama semakin mahal, dan lain-lain,? katanya menjelaskan.
Ia pun memiliki dan membangun kebiasaan atau habit untuk mendukung bidang pekerjaannya saat ini. ?Always on time, tidak menunda pekerjaan, dan selalu mencatat dengan mengandalkan teknologi seperti HP yang dilengkapi skedul, dan lain-lain,? ucapnya.
Manager of the Year sebagai Controller Hotel Marine (CMHO) tahun 2007 ini juga menjelaskan tentang pentingnya bidang pekerjaannya ini dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Nelson Mandela bilang bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Jadi, tanpa pendidikan, kita akan menjadi orang yang tersisih. Nabi Muhammad dalam haditsnya, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Nah pemahaman ini haruslah disebarkan ke masyarakat bahwa pendidikan adalah sangat penting,? jelasnya.
Anggota Gernasta (Gerakan Nasional Sadar Wisata) ini pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca artikel ini nanti. ?Majulah dengan penuh keyakinan. Lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan berserah dirilah kepada Allah SWT Yang Maha Menentukan. Setelah semua persiapan telah dilakukan, baik fisik mental, spiritual, maupun material maka banyaklah bersabar. Karena biasanya, orang yang memiliki kesabaran, akan memiliki apa yang ia inginkan,? ucapnya.
Untuk pencapaian yang membanggakan, pemilik cita-cita ingin menjadi tentara waktu kecil ini adalah orang bisa mengapresiasi kerjanya. Baginya, keluarga sangat penting terutama restu Ibu adalah segalanya. Keluarga sangat mempengaruhi. Di balik kesuksesan seorang suami, ada figur istri yang berarti.
Pengagum Ki Hajar Dewantoro ini menuturkan tentang rencana atau project dalam waktu dekatnya ini. ?Di bidang pendidikan, karena kebetulan mengemban amanah menjadi Kaprodi di Akpar Buana Wisata Yogyakarta, menjadikan Akpar Buana Wisata menjadi salah sati kampus pariwisata unggulan yang outputnya mampu bersaing, baik di tingkat regional, nasional, maupun international,? tuturnya.
Impian ke depan bagi Wahyu Indro Widodo adalah ketika nanti sudah tidak ada, ia ingin dikenang karena legacy yang ditingalkannya, bukan sebagai pecundang. ?Adapun secara umum, saya ingin melihat Indonesia ini dengan sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia,? katanya berharap.
