HarianBernas.com – Sebagai seorang difabel, Aji Musyafa dulu pernah hanya berbekal punya mimpi bahwa suatu saat nanti ia akan punya produk sendiri yang laris atau diminati banyak orang. Sejak tahun 2012, ia terus menekuni pekerjaan sebagai pengrajin tas kulit sapi, dompet kulit ikan pari, dan ikat pinggang dengan branding Mylio.
Karena mimpinya itu pula, ia sendiri butuh tiga tahun berjuang untuk memasarkan produknya dengan mengayuh di kursi rodanya. ?Dulu saya yakin suatu saat tidak akan keliling lagi dengan kursi roda. Suatu saat, orang banyak yang akan mencari saya. Semangat itu memang harus ada,? ungkapnya ke Harian Bernas, Kamis (12/1/17).
Mulanya, ia tidak berani menawarkan produknya karena di masyarakat sudah terbentuk, orang yang menggunakan kursi roda itu sebagai peminta-minta. ?Saya dulu keliling ke perumahan, mereka sudah menolak saya duluan. ?Maaf Mas tidak terima sumbangan?. Kata-kata ini sudah sangat teringat di otak saya. Hal seperti itu saya jumpai setiap hari.
Akhirnya, setelah bisa meyakinkan saya bukan peminta dan saya punya produk, mereka baru percaya. Pelan sekali saya menawarkan ke mereka sampai bisa diterima butuh perjuangan yang tidak gampang. Mungkin saat itu yang jualan yang memakai kursi roda waktu itu baru saya, sedangkan yang lain pada di jalan meminta-minta,? bebernya.
Ia pun mengungkapkan bahwa setelah diberi pengertian, orang yang dulunya menganggap dirinya sebagai peminta-minta, kini justru menjadi lebih menghargainya. ?Ternyata ada seorang disabilitas yang ingin benar-benar berusaha. Ternyata ada produk dari disabilitas yang tidak kalah dengan kelas pabrikan,? ucapnya mengingat komentar calon konsumennya ketika itu.
Selama tiga tahun, dengan kursi roda, ia memasarkan produknya banyak wilayah Yogyakarta, mulai dari Jalan Kaliurang, Condong Catur, Monjali, bahkan sampai ke kota Jogja kalau Minggu. ?Kadang kalau tidak bisa terjangkau dengan kursi roda, naik trans jogja. Saya sendiri tidak ada teman. Membawa ransel besar yang dipangku sambil mengayuh kursi roda. Sehari bisa 10 kilometer dan tidak sadar. Kalau dinalar dengan pikiran dan akal, tidak akan sampai. Hanya bermodal semangat. Semanat inilah yang meyakinakn untuk ternyata bisa,?paparnya.
Selain harus membiayai tiga adiknya yang masih sekolah karena anak pertama dan sosok bapak yang sudah almarhum, titik balik untuk memiliki usaha sendiri adalah kita bekerja muncul rasa keinginannnya untuk mandiri. ?Di Jogja, banyak sekali teman-teman disabilitas yang sebenarnya mereka itu punya kemampuan, tapi tidak ada kemampuan untuk benar-benar ingin mandiri. Mereka ikut orang saja, tapi digaji di bawah UMR. Banyak teman-teman secara skill bagus, tapi penghasilan mereka minim. Dengan adanya Mylio ini, penghasilan mereka bisa di atas UMR. Misi utamanya, saya ingin membantu karena saya mengalami sendiri sebagai disabilitas. Ketika masu kerja saja, masih banyak tantangannya, misal perkantoran, mencari orang-orang yang secara fisik lebih kuat. Untuk itu, kita berkarya di sini (kerajinan kulit),? tuturnya.
Untuk itu, pengalaman unik dari penyuka menonton sepakbola di televisi ini adalah bisa menggerakkan teman-teman disabilitas untuk mereka bisa mandiri dengan cara diajak produksi di usaha kerajinan ini. ?Sudah ada 14 teman disabilitas. Kita bermitra. Kita menyediakan bahan baku dan mesin produksi, misal ada satu keluarga yang disabilitas, suami-istri, mereka kebutuhannya apa, mesin jahit. Ya kita taruh mesin jahit dan bahan baku dari kita,? imbuhnya.
Suami dari Devi Kumalasari ini pun menceritakan bagaimana menjalankan usaha kerajinan kulitnya ini dengan mitranya yang sama-sama difabel. ?Mereka saya bagi sesuai dengan kemampuan mereka, misal dia spesialis dompet pria, dia ya setiap hari bikinnya dompet pria itu saja terus. Kalau yang spesialis tas, setiap hari bikinnya tas saja,? jelasnya.
Untuk bahan baku, ia mengaku tidak ada masalah dan mudah mendaptakannya. Kendala di modal pun sudah bisa diatasi. ?Saya dibiayai sama reseller. Reseller ini sudah menitip uang sama saya. Nah, uang ini yang saya putar-putar untuk usaha, ternyata bisa. Reseller bulan ini minta dibikinkan a-b-c-d-e, mereka langsung membayar dulu di awal. Uang reseller ini yang saya gunakan untuk produksi. Barang-barang kita produksi itu sudah dipesan sama reseller. Setiap hari, kita produksi. Kita sudah tahu ritmenya reseller A-B-C-D-E ini apa. Kita produksi itu saja, nanti habis juga. Kita tinggal kirim,? terangnya.
Untuk kendala yang sering ditemui, karena ada mitra yang jaraknya cukup jauh, misal di Pakem, ia harus pergi ke sana. ?Kadang ada mitra yang tipikalnya setiap hari, harus kita tanya. Kalau tidak ditanya, mereka terlalu santai. Ada yang seperti itu. Saya datangin produksinya lebih cepat. Saya tidak menganggap mereka karyawan, tapi mitra saya. Saya punya prinsip, mitra itu akan selalu saya mudahkan, misalnya biaya produksi yang biasa saya bayar setelah barang jadi, saya bayar di awal kalau mitra sedang ada kebutuhan yang mendesak,? tukasnya.
Owner Mylio ini pun memaparkan tantangan ke depan yang akan dihadapinya. ?Di produk ini, ada beberapa produk KW. Misal, ada dompet kulit ikan pari KW yang dijual 200 ribu. Dia (penjual dompet KW) ini aslinya itu sebagai penyamak kulit parinya. Saya sendiri kalau beli kulit ikan parinya sama dia, yang bagus kita beli. Nah, yang jelek hasil disortir, sama dia dibikin produk. Kulit ikan pari yang jelek itu kaku. Kalau dibikin dompet, dibuka susah, tapi kalau dari tampilan, tampak sama. Kita sering pameran bareng dan kita sering capek untuk menjelaskan dengan pertanyaan, ?Kok sana lebih murah ya Mas?? Kita beda dari segi kualitas apalagi di online gambarnya kan sama,? paparnya.
Pengrajin kulit ini membangun kebiasaan untuk mendukung usahanya ini. ?Kebiasan yang dibangun, selalu memberikan pelayanan yang terbaik, misal ada yang beli, meski sudah tahunan, kalau resletingnya rusak, saya ganti yang baru, gratis. Saya selalu belajar memberikan pelayanan yang terbaik. Jangan sampai konsumen ini kecewa dengan produk saya. Dengan seperti itu, trust konsumen itu akan menimbulkan timbal balik, lalu otomatis konsumen akan mempromosikan,? jelasnya.
Ketika ditanya pencapaian yang membanggakannya, ia menjawab bahwa bisa mandiri dan bisa hidup di kota dengan kondisi hidup di kursi roda. Kini juga sudah punya keluarga dengan dua anak karena di kampung, difabel identik merepotkan orangtua atau keluarga. ?Saya bisa keluar dari itu,? katanya bangga.
Untuk project terdekatnya, ia ingin punya galeri. Saat ini, ia hanya memfaatkan media sosial Instagram dan Facebook. Dengan media sosial, apa yang mau diproduksi bulan depan, sudah direncanakan di bulan ini, lalu di-uplod dulu sampel produknya itu di media sosial dengan menawarinya untuk Pre-Order dan biasanya sudah habis dipesan.
Untuk impian ke depan, Ayah dari Qonita Afifa Nahda dan Lina Dwi Nurhasna ini ingin produknya menjadi ikon di Indonesia dan ketika orang ingin dompet kulit ikan pari, mengenal merek Milyo.
