HarianBernas.com – Selain sebagai PNS, Eko Pujianto, S.Ag kini menekuni bidang usaha bersama istrinya, Sulastri mendirikan CV Prestasi yang bergerak di bidang usaha pengadaan barang dan jasa perkantoran dan usaha Toko Alat Tulis Kantor dan Fotocopy Prestasi. Sebelumnya, ia pernah mendirikan lembaga pendidikan dan pelatihan komputer (LPK) bernama Prestasi.
?Untuk menjadi yang terbaik, tidak harus dari terbaik pula. Ketika ingin sukses, tidak harus kaya atau berstatus sosialnya yang bagus. Selama ada keinginan, kemauan, niat yang kuat, cita-cita itu pasti terwujud. Sebuah mimpi bisa terwujud selama kita komitmen untuk berjuang ataupun untuk maju. Itu yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman muda hindu ataupun kelompok umat hindu untuk selalu memiliki keyakinan diri untuk maju dan terus maju. Tanpa seperti itu, kita hanya akan jalan di tempat, sedangkan pemuda-pemuda umat lain sudah begitu kencang berjalan, bahkan berlari. Kalau kita seperti ini terus lalu menjadi apatis dan minder, kapan kita berbuat. Kita harus memiliki rasa percaya diri untuk terus maju,? ungkapnya ke Harian Bernas, Jumat (13/1).
Dalam hal keluarga besar, di lingkungan keluarga, orangtua menjadi sosok-sosok yang paling mempengaruhi dalam kehidupannya, terutama ibu. ?Saya sangat terinspirasi walaupun Ibu saya itu hanya lulusan SD, tapi niat untuk menyekolahkan anak, niat untuk membekali anak supaya bisa mandiri, dan bisa memiliki ilmu sangat luar biasa. Bahkan, ibu saya rela bersusah payah, rela hidup sederhana, bahkan miskin agar anak-anaknya berkomitmen untuk bisa sekolah sampai perguruan tinggi supaya nasibnya nanti tidak seperti orangtuanya, tapi bisa lebih. Bila perlu menjadi teladan di keluarga dan masyarakat bahwa orang yang tidak punya bisa sekolah. Dengan dorongan ibu saya, yang saat ini sudah meninggal pada saat kami sudah mulai tahap-tahap menikmati hasilnya, inspirasi dorongan kepada kami luar biasa sehingga kami bisa mencapai seperti saat ini,?tuturnya.
Pengalaman masa kecilnya, bagi Eko tidak ada yang mengesankan. Ia hanya hidup di kampung dan banyak hal yang tidak didapatkan seperti anak-anak lain. Saat masih kecil, ia masih ingat kejadian di kebun sebelah rumahnya, yaitu kumpul-kumpul orang, umat Hindu di kampung yang ingin membangun Pura. Waktu itu, kakeknya memang aktif sekali menjadi umat Hindusebagai tokoh agama di kampung atau pemangku, yang dituakan umat Hindu di sana.
?Saya tanya, ?Kek kok itu dibangun pura. Kan tanahnya Kakek. Kok bisa dibangun begitu?? Kakek waktu itu menjawab, ?Tanah ini Kakek berikan untuk dibangun pura supaya dipakai oleh umat Hindu di sini karena umat Hindu di sini tidak memiliki tanah untuk membangun tempat suci,? ucap ceritanya.
Waktu itu, ia dikasih tahu sama kakeknya bahwa kita harus bisa memberikan hal yang terbaik untuk kepentingan umat banyak. ?Selanjutnya, disitulah, kami mendapatkan pesan yang terkandung di dalam hati saya. Wah luar biasa nih Kakek saya itu. Dengan sendirinya, saya berkomitmen ingin sekolah dan ingin menjadi pegawai yang aktif di dalam agama. Prinsip kami waktu itu, kalau guru agama Hindu aktif dalam agama Hindu sudah wajar, tapi kalau pegawai atau orang biasa, tapi aktif dalam agama, itu yang bagus,? terangnya.
Masa-masa kecil, ia hidup bersama kakek dan neneknya karena bapaknya anak tunggal sehingga waktu itu, ia menjadi cucu yang pertama. ?Artinya, sangat dekat sehari-hari dengan Kakek. Dari situlah, bibit-bibit nilai-nilai harmoni atau nilai-nilai sosial yang ditanamkan kakek saya. Sedikit banyak memberikan inspirasi kepada saya untuk bisa memberikan yang terbaik kepada orang tua saya supaya orangtua saya yang tidak lulus SD, tapi anaknya nanti bisa memberikan warna berbeda, tentunya menjadi yang didambakan orangtua,? bebernya.
Cita-cita Ingin Menjadi pegawai Terinspirasi dari Tetangga
Cita-cita sejak kecil Eko ingin menjadi pegawai karena terinspirasi dari tetangga kampung. Saat itu, ada pendatang seorang pegawai yang enak kehidupannya. Dalam perjalanan waktu, karena pura dekat dengan rumahnya, bersebelahan dengan rumahnya, ia sedikit banyak melihat dan familiar dengan kegiatan-kegiatan di pura. Di sisi lain, ia melihat tidak ada satupun umat Hindu di kampung kami yang menjadi pegawai.
?Waktu itu, saya ingin sekolah dan ingin menjadi pegawai. Ibu saya sangat mendukung apalagi Kakek saya karena dengan Ibu dan Kakek lebih dekat secara emosional apalagi Kakek tokoh agama di kampung atau pemangku, yang dituakan umat Hindu di sana. Luar biasa di sini tidak ada umat Hindu yang agak terpandang. Terus saya bercita-cita dan berkomitmen akan sekolah dan ingin menjadi pegawai dengan dukungan Ibu yang bersusah payah, bahkan hutang sana-hutang sini untuk mempertahankan saya bisa sekolah,? paparnya.
Bendahara PHDI Prov. Jateng (2014-2019) dulu bersekolah dengan tidak memiliki banyak biaya atau orangtua yang mampu. ?Hanya bermodal dari komitmen. Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak. Ibu berkomitmen sudah gagal untuk sekolah, anak saya harus sekolah. Saya sekolah di STM Solo ketika adik kedua masih di SMP dan adik terakhir di SD. Ketika lulus STM, adik masuk SMP dan SMA yang butuh biaya, tapi saya tetap bercita-cita tinggi untuk kuliah. Saya putuskan waktu itu untuk merantau membantu tetangga yang kerja di luar Jawa, tepatnya di Irian Jaya, Kabupaten Merauke. Saya berjualan alat dapur atau pisau yang uangnya untuk masuk kuliah tahun depan. Dalam perjalanannya, kuliah sempat terhenti karena cukup berat saat adik lulus SMA sekitar semester 5 berhenti di Unmer Malang, jurusan teknik mesin. Kerja di Batam setahun agar adik yang lulus SMP bisa masuk SMA. Setelah setahun, mau pulang mau ke Malang malas. Saya putuskan untuk jalan pintas, kuliah di Sekolah Tinggi Hindu Dharma (STHD) Klaten dan lulus S1 tahun 2003,? paparnya panjang.
Setelah lulus dari STHD Klaten, ia menjadi pegawai tidak tetap dengan gaji 200 ribuan per bulan dengan sudah menikah. Mengabdi Wiyata Bakti dengan mengajar agama hindu di SMP Sarasvati, Sumber Lawang, Sragen. ?Belajar agar saat nanti menjadi guru punya pengalaman. Tahun 2004, ada seleksi PNS, saya mendaftar di Kabupaten Karanganyar, tapi gagal. Sempat mau disuruh ke luar Jawa, entah karena suatu sebab apa, tidak ada panggilan ke sana. Ada formasi lagi untuk pendaftaran guru Agama Hindu di Sragen dan Semarang. Karena di Sragen sudah banyak yang mendaftar, saya mendaftar lewat Semarang. Januari tahun 2005, saya menjadi PNS. Dalam perjalanannya, sangat luar biasa saat menjadi PNS,?pungkasnya.
