HarianBernas.com – Herman Sulistyono kini menekuni pekerjaan sebagai General Manager Hotel Burza Yogyakarta. ?Hotel Burza ini berdiri tanggal 6 Juni 2015. Lokasinya terletak di Jalan Jogokariyan No 61-63. Luas tanah 3500 meter persegi, cukup luas untuk parkir. Seratus satu (101) kamar, empat (4) ruang meeting, dan satu (1) joglo atau pendopo. Konsep kita, tradisional Jawa dan berkolaborasi dengan modern. Kita banyak art Jawa, misal sepeda onthel dan lukisan-lukisan Jawa yang bertema nilai budaya Jawa. Karena kita tinggal atau hidup berkolaborasi dengan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Keistimewaan kita kedepankan. Kita mengacu pada Keraton Kesultanan Yogyakarta, konsep Jawa itu sangat kental. Ada tema di Punokawan, ada Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Punokawan sebagai simbol orang Jawa dan keteladanan. Konsep ini muncul dari owner kami, yang bernama Bu Sisca yang mengedepankan budaya Jawa. Sangat setuju karena akan membawa tamu-tamu kita ke memori masa lalu, yaitu ada joglo, ada pendopo. Tegelnya pun istimewa, tegel kunci yang jarang dipunyai hotel lain. Kita masih menguri-uri budaya Jawa. Tegel ini ada di lantai lobby, di restoran, dan di koridor kamar-kamar,? ungkapnya kepada Harian Bernas (18/11).
Dulu, awal tertarik bekerja di hotel karena punya Om yang sukses bekerja di hotel, Om Dalyono. ?Awalnya saya tidak tertarik, saya ingin di ekonomi. Sempat kuliah di di ekonomi, tapi putus lalu fokus di perhotelan. Saya tertarik karena hotel kayak sebuah keindahan dan ramah. Saya tertarik kemudian kuliah di perhotelan, Akademi Pariwisata Indraprasta, Jl.Veteran. Sebelum lulus sudah dipanggil hotel besar, bintang lima JW Marriot. Menunggu lulus dan wisuda dulu baru bekerja di sana. Waktu itu hotel banyak, tapi sekolah pariwisata sedikit. Hotel itu menarik karena bertemu orang yang berbeda-beda dari berbagai negara dan suku,? urainya.
Pria kelahiran Jogja ini hampir dua puluh tahun menekuni pekerjaan di hotel. ?Saya dari bawah, dari bartender tahun 1997, meniti karir di food and beverage, sebagai manajer restoran, lalu food and beverage manager. Pertama bekerja di Tickle Hotel, Fortune Fest Hotel, Agrowisata Wisata Salib Putih Salatiga, dan terakhir di Burza Hotel. Kembali ke Jogja ingin pulang kampung. Akhirnya, saya cocok menemukan hotel yang unik di Hotel Burza ini karena jarang hotel yang mengusung etnik Jawa apalagi lokasinya strategis di kota bisnis, kota turis, dan tidak jauh dari ring road. Menikmati nuansa Jawa. Kebutuhan turis juga ada di sini dan tidak terganggu kemacetan. Ke Keraton cuma sepuluh menit,? terangnya.
Penyuka hobi futsal ini pun membagikan pengalaman uniknya saat bekerja. ?Orang-orang dari luar negeri banyak sekali dari Eropa seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Australia. Uniknya, mereka suka naik sepeda onthel. Saya harus menyediakan dan siapkan sepeda onthel. Saya tidak pernah mengerem tamu yang ingin menikmati keunikan di sini. Naik becak juga dengan becak yang ada logo Burza sehingga tidak akan menaikkan harga dan membuat tamu bingung. Tamu-tamu yang anak muda, tidak mengetahui bahwa tegel di lantai Hotel Burza ini adalah tegel yang tradisional. Mereka tahunya tegel modern, saya harus menjelaskan bahwa ini tegal yang tradisonal, yang mempunyai nilai sejarah. Saya jelaskan sehingga mereka paham,? jelasnya.
Alumni Akademi Indraprasta ini menceritakan permasalahan yang paling sering dihadapi. ?Yang dihadapi adalah tamu-tamu yang tidak puas. Kita harus layani dengan baik karena kepuasan itu macam-macam. Yang komplain, katanya lokasi jauh dari Malioboro, lalu kita jelaskan padahal dekat. Dari Hotel Burza, hanya sepuluh menit dengan mobil. Kita dekat dengan Malioboro. Lalu, persaingan sesama hotel semakin banyak. Kita harus menyajikan produk dengan excelence service, jadi memberikan pelayanan yang istimewa. Dengan persaingan yang banyak, kita harus menonjolkan sesuatu yang berbeda dengan yang lain karena tantangan bisnis yang semakin sulit. Saingan banyak, banyak rebutan. Misal, kue di atas piring, dulu hanya dibagi sepuluh, sekarang dibagi lima puluh. Kita harus menyikapi itu supaya bisa menang dengan kompetitor. Alhamdulilah, di antara kompetitor, kita bisa nomor satu,? ucapnya menceritakan.
Untuk tantangan ke depan, Ayah dari Leonel Yogiswara ini membeberkan pandangannnya. ?Menghadapi MEA, Masyarakat Ekonomi Asean. Hal ini sudah dicanangkan di PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Jadi orang Vietnam, Thailand, Singapura, Malaysia tidak menutup kemungkinan bisa bekerja di Hotel Burza. Menyikapinya, memberdayakan karyawan kami dengan training-training agar mereka sesuai dengan standar hotel internasional, misal bahasa Inggris, komputer, dan teknik-teknik melayani tamu. Kita tingkatkan training-trainingnya. Para tenaga trainingnya berasal dari Head of Departemen dan saya sendiri agar mereka bisa berkompetisi di dunia internasional. Di Jakarta, sudah banyak orang asing yang bekerja di hotel-hotel. Antisipasinya, meningkatkan kualitas,? paparnya.
Peraih The Best Employee di Hotel JW Marriot tahun 2002 ini menjelaskan tentang alasan pentingnya bidang profesinya dilakukan dan dibagikan ke masyarakat. ?Penting karena bidang saya adalah bidang sosial. Kita lebih ke segi pelayanan, pelayanan ke orang-orang. Jadi kerja di hotel, meski ada masalah di rumah atau di kantor, sama tamu harus tersenyum. Inilah yang dibagikan ke masyarakat. Kita bagikan ilmu saya, harus tetap tersenyum ke setiap orang meskinya dalam kondisi apapun. Keep smile,? tukasnya.
Penyuka hal-hal berbau Jepang ini membeberkan habit khususnya untuk mendukung profesinya saat ini. ?Belajar terus karena ilmu tidak mengenal usia. Cara mendatangkan tamu, cara service tamu, cara sales marketing yang baik supaya tamu-tamu bisa datang ke Burza. Belajar terus dan tingkatkan kualitas saya. Hotel bisa terisi terus. Bekerja keras terus untuk penjualan. Hotel tanpa tamu, bukan hotel. Tamu yang menghidupi kita. Jadi, saya tekankan ke semua sales saya ke semua tim, supaya layani tamu dengan pelayanan yang bagus, service excelence, pelayanan yang prima. Spesifik, ikut seminar tentang sales marketing, membaca, belajar dari internet, dan belajar sama operator,? bebernya.
Pengagum Soekarno ini pun memberikan inspirasinya untuk orang yang membaca kisahnya ini. ?Semua harus bekerja keras untuk mencapai impian karena cita-cita adalah impian. Dulu saat bekerja di hotel, saya punya impian ingin menjadi manajer departemen. Ternyata saya melebihi itu. Dengan bekerja keras, orang bisa sukses. Tanpa bekerja keras, tidak bisa sukses. Seperti Jepang dan Korea, semua orang bekerja keras, jam tujuh pagi sudah di kantor dan tujuh malam baru pulang bekerja. Kalau kita malas-malasan, susah kita mengejar mereka. Saya tekankan kepada semua orang agar bekerja keras supaya mencapai apa yang mereka cita-citakan,? katanya yakin.
General Manager ini pun membagikan sarannya untuk orang yang ingin meraih kesuksesan karir di bidang hotel. ?Yang pertama, kalau ingin sukses dan go internasional, harus sekolah di sekolah pariwisata, misal SMK di jurusan perhotelan dan kuliah di pariwisata. Yang kedua, harus mempunyai motivasi dan dedikasi tinggi, yang ketiga, adalah jujur, yang keempat adalah ulet, dan yang kelima adalah attitude. Kalau attitude baik, karir menjadi baik,? tuturnya.
Untuk pencapaian membanggakan baginya adalah saat ini menjadi karir pencapaian terbaiknya. Di keluarga, bisa membuat istri dan anak-anak bahagia. Sukses membawa Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy dan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo bisa menginap di Hotel Burza.
Pengagum Ketua PHRI, Istijab Danunegoro ini pun menyebut impian dan project terdekatnya. ?Untuk impian, ingin usaha sendiri, punya hotel kecil atau villa atau penginapan sendiri. Untuk project terdekat, saya ingin memajukan hotel ini bersaing dengan hotel lain. Saya ingin ada ballrom, ruang meeting besar, yang mengakomodir wilayah selatan. Bisa melakukan meeting skala internasional,? katanya berharap.
