HarianBernas.com – Dengan motto No Pain No Gain, Dr Daryono, SSi, MSi meyakini untuk maju, sukses, berhasil, dan terkenal itu membutuhkan sebuah usaha yang keras. “Tidak ada orang malas yang berhasil. Semua orang memang ingin sukses, tetapi apakah semua orang mau dan siap untuk bekerja keras, tekun, sabar, pantang menyerah, dan tanpa mengenal lelah?
Untuk dapat menguasai suatu keahlian tertentu, orang harus rajin belajar, rajin berlatih, dan terus mengulang-ulang sampai benar-benar menjadi mahir dan excellent. Jadi, tidak ada yang instan untuk meraih kesuksesan. Ada proses panjang yang harus dilewati, dan inilah sunatulloh,” ungkapnya kepada Harian Bernas, Sabtu (3/12).
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
Selain sebagai peneliti di bidang Geofisika dan bidang gempa bumi dan tsunami, kini pria kelahiran Semarang ini menjabat sebagai Kepala Bidang informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami di BMKG (Badan Meteorologi, Kilmatologi, dan Geofisika). “Saya sangat menyukai kegiatan tulis-menulis di bidang sains, khususnya bencana kebumian, geohazard,” imbuhnya.
Ketika ditanya apakah lingkungan memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang ini, alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika ini menjawab bahwa sosok Bapak yang sangat keras dan tegas membimbingnya dalam belajar untuk mencapai kemajuan.
“Saya masih ingat saat masih sekolah di SD. Bapak saya membuat aturan bahwa setelah Magrib dan makan malam, saya harus duduk di meja untuk belajar hingga pukul sembilan malam. TV boleh menyala setelah pukul sembilan malam, kecuali hari Sabtu bebas, tetapi minggu malam aturan kembali berlaku. Saya juga ingat saat Bapak melarang saya belajar sambil tiduran, mendengarkan radio, dan bercanda. Dengan aturan keras dari Bapak saya, akhirnya saya terbiasa belajar sampai tengah malam, bahkan Bapak saya tiba-tiba mematikan lampu karena waktu sudah pukul satu dini hari dan harus tidur,” ucap ceritanya.
Peraih dua (2) Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI ini membagikan pengalaman unik, khusus yang menjadi titik baliknya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini. “Saat kuliah S1 di Universitas Indonesia (UI), saya benar-benar mengagumi para dosen yang bergelar Doktor. Mereka sangat pintar. Dengan mudahnya dan piawai, menguraikan turunan matematika dan rumus-rumua fisika yang rumit dan sulit. Sejak itu, saya berjanji ingin hebat seperti mereka maka saat di Depok itulah saya berjanji ingin sekolah setinggi-tingginya untuk menjadi Doktor. Saat itu, saya juga terus belajar keras dan terus berdoa supaya dapat menjadi Doktor,” urainya.
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
Untuk itulah setelah lulus S1 Meteorologi dan Geofisika di UI pada tahun 2000, tidak lama kemudian pulang ke tempat tugas di BMKG Bali, lalu melanjutkan S2 di Universitas Udayana. “Kebetulan di Universitas Udayana ada beberapa professor lulusan Australia yang tertarik kajian Iklim dan Lahan kering. Selanjutnya, saya lulus S2 tahun 2002 dengan penelitian Iklim Pulau Bali. Setelah lulus S2 dan dinas kembali selama 4 tahun maka pada tahun 2007 mendapat tugas belajar pada Program Doktor Ilmu Geografi UGM (Universitas Gadjah Mada) dengan studi kekhususuan Mitigasi Bencana Gempabumi. Di UGM riset disertasi saya adalah Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Mikrotremor di Zona Graben Bantul. Temuan disertasi saya adalah bahwa stiap bentuk lahan (landform) memiliki respon guncangan yang berbeda-beda saat terjadi gempa bumi sehingga berdasarkan disertasi saya dapat mengetahui tingkat bahaya gempa bumi dapat diketahui berdasarkan satuan bentuk lahannya. Pada hari Sabtu tanggal 26 Desember 2011, saya lulus ujian terbuka dan promosi Doktor UGM. Hari itulah doa yang saya panjatkan sejak S1 untuk menjadi Doktor dikabulkan oleh Alloh dan sejak hari itu saya menyandang gelar Doktor,”terangnya panjang.
Tentang alasan mengapa menekuni bidang profesi sampai sekarang ini, alumni UI ini menjawab karena sangat menyukai ilmu gempa bumi. “Saya setiap membaca buku, jurnal, hasil penelitian, dan berita terkait gempa bumi dan tsunami tidak ada bosan dan lelahnya. Bidang ini seolah sudah menjadi passion saya. Saya hingga saat ini pun terus menulis hal-hal yang berkaitan dengan gempabumi dan tsunami untuk feeding berita online dan media cetak. Setiap terjadi peristiwa gempa bumi yang signifikan baik dalam dan luar negeri, saya selalu menganalisisnya dan saya tuliskan dalam sebuah narasi berita gempa bumi untuk dibagikan kepada awak media,” jelasnya.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Untuk tantangan ke depan, Vice Presiden Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Bidang Sains dan Teknologi ini membeberkan pandangannya. “Tantangan hidup saya saat ini tentu berhubungan dengan posisi saya sebagai Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami di BMKG, yaitu bagaimana kita dapat memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dengan cepat, tepat, akurat, luas, dan mudah dipahami. Karena wilayah Indonesia sangat luas maka tantangan kita adalah bagaimana kita dapat menyediakan sarana peralatan penerima diseminasi informasi di daerah rawan serta mengedukasi pemerintah daerah dan masyarakat setempat agar mereka dapat memahami produk informasi BMKG sehingga mereka dapat meresponnya sehingga efektif dalam upaya evakuasi dan penyelamatan diri,” bebernya.
Untuk yang memiliki peran atas apa yang dicapai saat ini, pemilik cita-cita waktu kecil menjadi dokter ini menjawab, yaitu pertama peran orang tua, kedua adalah istri saya Yani Sumiana MSc, ketiga adalah para guru dan dosen yang selalu mengajari dan membimbing dalam memahami ilmu pengetahuan, dan keempat adalah para pimpinan BMKG yang telah memberi izin, kesempatan dan pemberian tugas belajar.
Ia pun membangun habit/kebiasaan khusus yang dibangun selama ini untuk mendukung bidang pekerjaannya. “Habit saya adalah membaca dan menulis. Meski saya sudah selesai sekolah, tetapi saya masih terus belajar dengan selalu membaca jurnal ilmiah, buku-buku terbaru yang berkaitan dengan gempabumi dan tsunami, serta terus mengikuti update perkembangan riset gempa bumi dan tsunami, serta strategi mitigasi bencana kebumian. Setiap saya mendapatkan hal baru dari apa yang saya baca maka saya selalu akan mencoba menuliskannya dalam sebuah artikel pendek untuk dikembangkan sebagai tulisan baru produk saya,” ucapnya menjelaskan.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Doktor dalam bidang Mitigasi Bencana Gempa Bumi ini menjelaskan tentang bidang yang digelutinya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. “Karena wilayah negara kita berada di zona tumbukan 3 lempeng tektonik utama dunia sehingga sangat rawan gempabumi dan tsunami. Masyarakat banyak yang belum paham karakteristik ancaman bencana ini. Sejarah kejadian bencana kita sangat banyak, tetapi masyarakat kita banyak yang tidak mengenalnya sehingga saya sangat ingin mencerahkan masyarakat dengan cara menekuni bidang ini. Saya ingin menjadi ahli bidang ini dan membuat masyarakat menjadi tercerahkan, kemudian sadar dan paham akan ancaman bencana dan bagaimana cara menghadapi dengan mengenalkan upaya mitigasinya,” tukasnya.
Pengagum Nabi Muhammad ini membagikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ”Saya selalu meniru orang sukses dan saya yakin orang sukses bisa kita tiru. Selama masih sehat dan banyak kesempatan maka belajarlah terus, bacalah terus ilmu pengetahuan, dan bekerjalah sebaik-baiknya. Selanjutnya, keluarkan produk dari apa yang telah Anda baca dan pelajari tersebut dengan cara mengembangkannya. Kita sebagai orang yang berpendidikan tinggi harus memiliki tanggung jawab keilmuan (scientific responsibility) sehingga seorang yang bergelar Master atau Doktor semestinya memiliki tanggungjawab keilmuan berupa produk keilmuan dalam bentuk buku, jurnal, artikel, atau tulisan apapun untuk mencerahkan orang banyak,”paparnya.
Untuk project dalam waktu dekat, ia akan menyelesaikan beberapa buku terkait dengan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia. “Agar masyarakat umum dapat mengakses data sejarah gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Tanpa mengenali sejarah bencana masa lalu, masyarakat kita tidak akan pernah mengerti potensi bencana yang akan terjadi dan mengancam kita,” pungkasnya.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
