HarianBernas.com – Selama 24 tahun, Asteria T Hesty terus konsisten menekuni bidang pekerjaan sebagai Hotelier meski dulu pernah ada tawaran bekerja di sebuah bank BUMN. Namun, ketika itu, ia merefleksikan dirinya untuk meyakini bahwa keahliannya bukan di bank, tapi di dunia hotel.
Kini, ia menduduki posisi sebagai Director of Operation (DOP) Grand Tjokro Hotel Indonesia. ?Dunia perhotelan, tourims industry tidak akan pernah mati selama objek wisata masih ada. Bisnis yang tidak akan pernah mati adalah tourism industry. Saya punya passion dan menaruh kepercayaan besar pada dunia industri perhotelan,? ungkapnya memberikan alasan ke Harian Bernas, Selasa (10/1).
Sebagai leader, ia pun sering mengatakan kepada timnya untuk jangan pernah takut melakukan kesalahan, melakukan sesuatu, atau mengatakan ini tidak bisa sebelum kita mencoba. ?Kalau kita melakukan sesuatu, kemudian itu salah, kita tahu itu salah, akan ada effort untuk memperbaikinya, dan membuatnya lebih baik,? terangnya.
Perempuan kelahiran Magelang ini pun menceritakan tentang awal ketertarikannya untuk belajar sekolah perhotelan di Yogyakarta padahal hatinya ingin kuliah di psikologi atau hukum karena suka hubungan antarmanusia, mempelajari kejiwaan manusia, dan human relations, ataupun membantu orang lain keluar dari permasalahannya. ?Saat remaja, ada satu hal yang membuat tertarik, ada tetangga, lebih tepatnya teman kakak saya, di usia yang masih sangat muda, dia sudah mampu membantu orangtuanya, merenovasi rumah, padahal usianya sangat masih muda dan terbilang masih mahasiswa. Kemudian saya tanya, ?kok bisa ya?? Ternyata dia bekerja di kapal pesiar dan sudah keliling dunia. Pendapatannya cukup banyak untuk ukuran kami dan ukuran saat itu dan bisa sangat membantu keluarganya. Tiba-tiba saya tergerak, ?Wah kalau saya bisa membantu keluarga saya, menarik sekali?. Akhirnya, saya langsung cari sekolah perhotelan di Jogja, tempat kuliah tetangga saya tersebut, padahal saya tidak tahu sama sekali seperti apa dunia hotel itu dan masuk hotel saja belum pernah. Saya hanya punya niat, ingin bermanfaat bagi keluarga. Setelah masuk kuliah perhotelan, ternyata menarik sekali,? paparnya tentang pernah berbekal niat saja.
Dalam perjalanan waktu, Ibu yang bertutur begitu halus ini mengawali karirnya sebagai resepsionis di sebuah national hotel chain pada tahun 1992 sambil menyelesaikan kuliah D3-nya. ?Saat itu, kompetisi sangat ketat sekali sehingga posisi resepsionis buat kami mahasiswa perhotelan sungguh sangat mebanggakan sekali dan prestisious karena hotel saat itu tidak banyak. Di jogja, di tahun 90 an tamu Asingnya banyak sekali terutama Eropa dan ada juga dari berbagai Negara Asia dan kalau bisa menjadi resepsionis berarti dianggap mampu berbicara dan berkomunikasi bahasa Inggris dengan baik, serta memiliki pengetahuan yang baik. Itulah kebanggaan yang luar biasa,?ucapnya dengan begitu senang.
Pengalaman Unik sebagai GM
Sarjana Ekonomi Manajemen ini pun membagikan pengalaman uniknya selama menjadi General Manager, yaitu ketika membuka hotel Grand Tjokro. ?Ada satu pengalaman yang berkesan sekali. Dulu di depan sini (Hotel Grand Tjokro), kan ada halte bus yang besar sekali. Hampir menutupi 3/4 hotelnya. Waktu ditawari bekerja menjadi GM di hotel ini, teman-teman saya mengatakan, ?Wah di depan hotel, ada haltenya sampai tidak kelihatan hotelnya. Terus saya lihat, iya ya ketutupan apalagi lokasi yang masuk ke ring 3 dan brandnya atau nama hotelnya pun agak berkesan ?ndeso? kurang komersial bahkan belum dikenal sama sekali. Namun, waktu itu, saya tak gentar. Kalau kita ada di hotel yang besar, brand besar, dan lokasi sangat strategis, ketika berhasil akan biasa karena memang sudah besar. Namun, bisa membuat hotel yang belum dikenal, brand lokal, bisa terkenal dan menjadi bagus, itu luar biasa dan pastinya akan berbeda nilai kepuasannya. Ketika kita niatkan sepenuh hati dan niat itu baik, akan memberikan pengalaman yang berharga,? tuturnya sangat optimis saat itu.
Saat itu, ia memang sudah niatkan bahwa halte itu mesti bergeser dari depan Hotel Grand Tjokro. ?Saya sudah tanya ke owner saya dan tanya ke manajemen hotel operatornya. Ternyata sudah diurus lama dan sudah melakukan ini dan itu, tapi belum berhasil memindahkan halte. Namun saya sangat yakin kalau saya harus bisa bisa melakukan itu. Akhirnya, bisa juga. Saya masuk ke hotel ini awal Januari 2013, hotel ini buka Maret, tanggal 8 Maret kita sudah soft-opening. Tanggal 2 Maret, halte itu kami pindahkan. 60 orang dari Grand Tjokro memindahkan halte ke lokasi yang ada di sebelah utara hotel dengan persyaratan dan ijin dari instansi-instansi terkait,? ucap ceritanya begitu senang.
Terus Inovasi Agar Competitiveness Produk Diterima Pasar
Penyuka hobi travelling ini pun membagikan permasalahan yang sering dihadapi dalam bidang pekerjaannya saat ini. ?Yang pasti, pengembangan usaha itu pastinya banyak tantangan. Bagaimana kita bisa memiliki strategi-strategi inovasi-inovasi baru untuk membuat competitiveness produk kita bisa diterima di pasar. Itu pasti butuh tantangan yang tidak mudah tentunya karena hotel kita terletak di berbagai area. Kota kecil seperti Klaten, kita punya hotel di sana, kan butuh tantangan tersendiri karena demand untuk Klaten itu tidak sebesar di Jogja, meski di Jogja, kompetisinya juga sangat tinggi sekali. Klaten, boleh dibilang satu-satunya hotel yang berbintang dan yang ada chainnya kan cuma hotel kami, Grand Tjokro Klaten. Bukan berarti tidak ada kesulitan untuk membuat orang datang dan tinggal di hotel kami. Itu kan butuh strategi tersendiri. Tantangan-tantangan seperti itu yang harus terus kami bisa atasi. Cari solusi-solusi dari pengembangan bisnis (bussines development),? terangnya.
Untuk tantangan ke depan di pekerjaannya, ia menyebut bahwa competitiveness akan semakin challenging dan hypercompetision. ?Semakin ekonomi membaik, investasi akan banyak ke real estate, ke investasi-investasi tanah dan bangunan. Hampir semua area di Indonesia. Itu pasti membutuhkan tantangan tersendiri. Bagaimana membuat brand kita tetap diperhitungkan, tidak dilupakan di pasar, company kita terus berkembang. Bagaimana membuat perusahaan kami terus dipercaya oleh investor-investor lain untuk bisa memanage dan mengelola hotel-hotel mereka,? bebernya.
Hotelier ini pun mengungkapkan bahwa selama ini, ia bisa menikmati semua pekerjaan dan tantangan yang dihadapi dengan ikhlas. Apapun yang ada dan dihadapinya, ia buat happy. Ia pun menjelaskan tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. ?Kenapa nggak karena di dunia hotel ini banyak sekali nilai-nilai yang saya dapatkan, banggakan, dan bisa hidup dengan baik dari dunia ini. Belajar banyak nilai, banyak pengalaman, dan banyak kesempatan untuk perkembangam karir dan hidup,? katanya bersemangat.
Penasehat IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) ini membagikan inspirasinya. ?Kalau Anda jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang mampu menginspirasi baik teamnya maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya, juga jadilah pemimpin yang memiliki integritas dan kerendahan hati, memimpin dengan hati. Kerja itu adalah ibadah karena apapun yang kita miliki adalah milik yang di Atas. Lakukan segala sesuatunya dengan berpegangan pada Tuhan, sebagai pusat segala aktivitas kita. Ketika kita berfokus pada kebaikan, kita pasti akan mendapatkan yang terbaik. You do your best and you will get the best,? tuturnya begitu percaya.
Pembaca buku-buku motivasi ini pun menceritakan rencana terdekat dan impiannya.?Untuk project, akan rebranding hotel di Pekanbaru dan Klaten. Terus mengembangkan project hotel operator. Untuk impian, punya impian punya usaha yang tidak jauh dari bidang saya. Punya saya sendiri, saya kelola sendiri untuk bekal masa tua. Cukup beberapa kamar yang tidak membuat pusing, namun saya masih bisa bermanfaat mengurusnya dengan tenang. Di karir, ingin terus bisa melakukan hal hal yang lebih besar dan menghasilkan hal besar,? pungkasnya.
