HarianBernas.com – Berdasarkan pengamatan saya terhadap orang-orang yang berada dilingkungan sekitar dan kejadian-kejadian yang ada di Indonesia terutama perpolitikan yang sedang panas-panasnya saat ini semakin menguatkan saya untuk berani menyimpulkan bahwa Kita (manusia) mudah sekali melihat “ketidakberesan” (baca: Kekurangan, kesalahan) orang lain.
Apalagi ketidakeresan orang-orang besar atau organisasi besar seperti agama dan perusahaan konglemerasi sampai pada organisasi pemerintahan mudah sekali Kita “hakimi”. Seolah-olah saja Kita sudah pernah berada di posisi orang-orang yang berada di organisasi besar itu, dan seolah-olah tahu masalah yang mereka hadapi. Oh iya tulisan ini juga saya tulis di blog pribadi saya di www(dot)indonesiakuhebat(dot)com.
Keinginan yang besar untuk bisa sukses dalam kehidupan (sukses definisi Saya adalah bisa memiliki kebebasan finansial di usia muda, maksimal 40 tahun lah) membuat saya banyak mempelajari kehidupan orang-orang sukses sebelumnya.
Ternyata hal yang mengejutkan saya adalah ada kesamaan pola pikir dari mereka para guru-guru kehidupan saya itu, apa itu? Hal itu adalah mereka semua memiliki semangat, optimis, dan positif. Tidak pernah sama sekali mereka mempermasalahkan “ketidakberesan” orang lain atau organisasi, yang ada mereka merubah ketidakberesan itu menjadi keunggulan dan senjata.
Lalu saya apa? berdasar temuan saya itu saya mulai mendidik diri untuk mengurangi menghakimi orang yang “tidak beres”itu dengan cara mengalihkan perhatian saya ke keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.
Namun pertanyaan tentang kenapa manusia begitu mudahnya melihat ketidakberesan manusia atau hal lain diluar dirinya itu masih menghantui saya, sampai pada suatu ketika saya tiba-tiba teringat akan kehidupan manusia purba saat dunia ini masih sering terjadi “bencana” karena mencari bentuk terbaiknya.
Saya membayangkan bagaimana saat itu insting untuk bertahan hidup sangatlah dibutuhkan, bagaimana caranya melihat ketidakberesan pada cuaca dan kondisi alam sehingga manusia purba bisa membuat rencana apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Itu dari sisi alam, kemudian dari sisi manusia, saya bisa bayangkan bagaimana rasanya hidup di zaman itu, zaman tidak ada hukum negara, yang ada hanya hukum rimba, siapa yang kuat dan cerdas maka dia yang bertahan hidup. Betapa ahlinya manusia zaman itu membaca ketidakberesan yang mengancam hidupnya. Sebuah anugrah yang luar biasa dari pencipta.
Nah, insting bertahan hidup inilah yang masih kita miliki sampai sekarang sehingga kita begitu mudahnya melihat ketidakberesan hal lain diluar kita. Bahayanya, insting ini bila salah kita gunakan bisa berakibat fatal terhadap diri kita.
Menyadari hal ini, tugas kita selanjutnya adalah bagaimana menggunakan insting ini supaya bermanfaat untuk kehidupan kita untuk bangsa dan negara kita tercinta Indonesia.
Saya sudah mulai melakukannya, bagaimana dengan Anda?
