HarianBernas.com – Inggris dituding sebagai biang kerok timbulnya sengketa antara Israel dan Palestina yang masih terus berlangsung hingga sekarang. Pasalnya, ketika sedang menguasai wilayah Palestina, Pemerintah Inggris sempat menerbitkan Deklarasi Balfour yang isinya adalah pemberian izin kepada orang-orang Yahudi untuk bermigrasi dan menetap di Palestina.
Hal itulah yang mendorong pemerintah Palestina untuk menuntut permintaan maaf resmi dari Inggris. Menurut Presiden Mahmoud Abbas, kebijakan kolonial Inggris ketika masih menguasai Palestina menjadi alasan utama kenapa banyak warga Palestina yang tergusur dari tanah airnya sendiri.
Tuntutan Abbas ini diajukan menjelang perayaan 100 tahun dikeluarkannya Deklarasi Balfour. Sebuah halaman petisi untuk menuntut permintaan maaf resmi dari pemerintah Inggris juga sudah dibuat di situs resmi parlemen Inggris. Hingga hari Kamis (27/4/2017), petisi tersebut sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 13.500 tanda tangan.
Pemerintah Inggris pun lantas angkat bicara untuk menanggapi tuntutan yang diajukan Abbas tersebut. Dalam pernyataan resminya seperti yang dikutip oleh The Independent, pemerintah Inggris menolak untuk meminta maaf terkait keputusannya menerbitkan Deklarasi Balfour sambil menyatakan rasa bangganya bisa ikut berperan dalam pendirian negar Israel. Pemerintah Inggris juga menekankan bahwa untuk sekarang, hal terpenting yang harus segera dilakukan adalah menciptakan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Deklarasi Balfour adalah surat resmi yang diterbitkan oleh Sekretaris Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lionel Walter Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris. Dalam surat yang dirilis pada tanggal 2 November 1917 tersebut, Inggris mengizinkan berdirinya negara Yahudi di Palestina selama pendiriannya tidak membahayakan hak-hak warga non-Yahudi yang sudah bermukim lebih dulu di Palestina.
