HarianBernas.com – Aksi saling sikut selama pemilihan presiden Perancis bukan hanya berlangsung di dunia nyata. Tim sukses kandidat presiden Emmanuel Macron mengumumkan kalau sejak bulan Januari, pihaknya menjadi sasaran penyerangan siber. Untungnya, tidak ada data yang berhasil dicuri oleh oknum pelaku serangan tersebut.
Menurut laporan yang dibuat oleh Trend Micro, pelaku serangan tersebut adalah kelompok peretas bernama Pawn Micro yang berbasis di Rusia. Salah satu serangan yang mereka lakukan terjadi pada tanggal 15 Maret lalu untuk mencuri informasi sensitif dan password milik anggota timses Macron. Trend Micro adalah perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang keamanan virtual.
Rusia sendiri langsung bertindak cepat menanggapi beredarnya kabar mengenai serangan yang dilakukan oleh kelompok peretas Rusia. Menurut Dmitry Peskov yang bertindak sebagai juru bicara Kremlin, tidak ada bukti kalau Rusia berada di balik serangan siber tersebut. Ia juga mempertanyakan kenapa yang dijadikan kambing hitam adalah Rusia.
Emmanuel Macron adalah muka baru dalam panggung politik Perancis yang diusung oleh partai En Marche!. Namun hal tersebut tidak lantas menjadi batu sandungan bagi dirinya untuk menarik simpati para pemilih. Dalam pilpres putaran pertama yang digelar pada hari Minggu (24/4/2017) lalu, Macron berhasil keluar sebagai pemenang usai mengumpulkan hampir 24 persen suara.
Hasil ini tidak serta merta membuat Macron bisa langsung menjabat sebagai presiden Perancis. Pasalnya masih ada pilpres putaran kedua pada tanggal 7 Mei mendatang. Saingan tunggalnya dalam pilpres putaran kedua adalah Marine Le Pen yang berhasil mengumpulkan lebih dari 21 persen suara di putaran pertama. Semasa berkampanye, Le Pen berjanji bakal menarik Perancis keluar dari Uni Eropa dan menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih ketat jika dirinya terpilih menjadi presiden.
Kendati Macron dan Le Pen hanya memiliki selisih suara yang relatif tipis dalam pilpres putaran pertama, para pengamat memprediksi kalau Macron bakal menang mudah dalam pilpres putaran kedua. Pasalnya usai digelarnya pilpres putaran pertama, kandidat presiden yang lain beramai-ramai meminta pendukungnya beralih mendukung Macron.
