HarianBernas.com – Pemberontakan dan konflik bersenjata seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Filipina selatan. Sebuah langkah terobosan pun dicoba oleh militer Filipina untuk mengatasi masalah tersebut.
Channel News Asia mengabarkan kalau militer Filipina berencana memberlakukan sistem kuota berbasis agama dalam keanggotaan militernya.
Berdasarkan sistem yang baru diusulkan ini, sekitar 5 persen aplikasi penerimaan personil militer Filipina bakal dialokasikan untuk warga Muslim setempat. Rencananya para tentara Filipina yang beragama Islam tersebut bakal dididik secara khusus untuk nantinya diterjunkan di Filipina selatan.
Muslim merupakan golongan minoritas di Filipina yang lebih dari 90 persen penduduknya menganut agama Kristen Katolik. Namun wilayah Filipina selatan memiliki populasi Muslim berjumlah besar. Menurut Kolonel Edgard Arevalo, penerjunan pasukan Muslim di daerah konflik Filipina selatan bakal membantu memudahkan operasi militer pasukan Filipina.
?Sebagian besar saudara-saudara Muslim kita memandang penerjunan pasukan yang hampir 100 persennya beragama Kristen di wilayah mereka sebagai pasukan penyerbu atau penjajah,? jelas Arevalo.
Pemberontakan di Filipina selatan sudah berlangsung sejak tahun 1970-an dan menewaskan lebih dari 120 ribu orang. Setiap kali suatu kelompok pemberontak berhasil diajak melakukan gencatan senjata, sebagian anggotanya bakal membentuk kelompok baru untuk melanjutkan pemberontakan. Salah satu kelompok yang masih aktif melakukan pemberontakan hingga sekarang adalah kelompok Abu Sayyaf.
