HarianBernas.com ? Menutup bagian yang luka dengan perban dan kain kasa adalah metode yang lazim digunakan untuk mengobati luka bakar. Namun di Brazil, para ilmuwan setempat mengembangkan metode pengobatan luka bakar yang tidak umum. Metode tersebut adalah mengompres bagian yang luka dengan kulit sisik ikan nila.
Adalah tim ilmuwan dari Universitas Federal Ceara yang mengembangkan metode baru ini. Menurut temuan mereka, sisik ikan nila mengandung zat pelembab dan memiliki tingkat kekebalan terhadap penyakit yang tidak kalah dibandingkan kulit manusia.
Metode ini sendiri dikembangan sebagai tanggapan atas fenomena langkanya kulit babi dan manusia di rumah-rumah sakit Brazil untuk mengobati luka bakar. Untuk mengakalinya, dokter atau perawat biasanya akan menutup luka bakar dengan kain kasa. Namun metode ini sangatlah tidak nyaman karena kainnya harus diganti setiap 2 hari sekali dan terasa sangat menyakitkan ketika dicabut.
Ikan nila di lain pihak merupakan ikan air tawar yang populasinya sangat melimpah di sungai dan kolam Brazil. Temuan ini diharapkan juga bisa memaksimalkan penggunaan setiap bagian ikan nila. Selama ini bagian kulit ikan nila yang sudah mati akan dikikis dan dibuang begitu saja.
Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Odorico de Morais ini sudah melakukan percobaan pada 56 pasien berbeda yang memiliki luka bakar tingkat dua dan tiga. Pemasangan dilakukan dengan cara menaruh potongan kulit nila di atas luka bakar dan kemudian mengikatnya dengan perban. Pasien juga tidak perlu diberikan krim khusus luka bakar yang harganya cukup mahal. Sesudah 10 hari, perban dan kulit ikan sudah bisa dicabut.
?Gunakan kulit ikan nila. Itu sangat bagus,? kata montir Antonio Janio yang terkena luka bakar parah di bagian lengannya. ?Kulit ikan nila membuat rasa sakitnya hilang. Kamu tidak perlu mengkonsumsi obat apa-apa lagi. Dalam kasusku, aku tidak memerlukannya. Terima kasih Tuhan.?
