HarianBernas.com – Penasaran kenapa ada banyak orang yang memiliki kebiasaan jam karet? Nah, ini dia ada alasan psikologi yang bisa menjelaskan mengapa kebiasaan buruk ini terus melekat pada diri seseorang.
Hobi terlambat atau “jam karet” merupakan julukan bagi Anda di kantor atau tempat kerja? Kebiasaan buruk ini dapat membuat citra Anda menjadi negatif dan kurang profesional. Sebenarnya ada alasan psikologi yang bisa menjelaskan mengapa kebiasaan buruk ini terus melekat pada diri seseorang.
1. Pribadi yang Multitasking
Sebuah riset menunjukkan, karyawan yang melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking) cenderung sering datang terlambat ke kantor dibanding mereka yang fokus pada satu aktivitas di satu waktu.
Jika Anda harus melakukan banyak kegiatan, siasati dengan membuat pengingat di ponsel atau laptop yang akan memberi alarm paling tidak 15 menit sebelum meeting atau janji temu lainnya.
2. Kesulitan dalam Mempersepsikan Waktu
Manusia memiliki jam biologis yang mengatur tubuh secara alami. Orang yang selalu terlambat biasanya mengalami gangguan dalam persepsi waktu. Misalnya saja Anda sibuk membaca atau bermain media sosial padahal pada saat yang sama seharusnya Anda sudah siap berangkat ke kantor. Anda mengira baru 5 menit berselancar di media sosial, padahal faktanya sudah 20 menit.
3. Kepribadian yang Terlalu Santai
Orang yang punya hobi terlambat biasanya cenderung meremehkan waktu. Pada umumnya mereka yang berkepribadian tipe B yang cenderung santai. Kepribadian macam ini memang sering “ngaret”.
4. Kurang Empati
Memang tak ada yang salah dengan sikap santai dan tak suka terburu-buru, tetapi penting juga untuk memperhatikan perasaan orang lain yang menunggu. Cobalah menambahkan beberapa menit dalam estimasi waktu Kalian.
5. Orang-Orang Suka Menunda
Suka menunda sesuatu yang harunya bisa dikerjakan segera, adalah penyebab utama dari budaya jam karet. Tak bisa dipungkiri, ada cukup banyak orang yang kerap menunda melakukan sesuatu. Misalnya menunda pertemuan, tentu saja hal semacam ini akan mempengaruhi waktu orang lain. Dan jika waktu seseorang sudah terganggu maka dampaknya bisa meluas ke berbagai hal lain.
Mau tak mau, keterlambatan akan sering terjadi. Dan jadilah jam karet. Kebiasaan menunda memang tidak baik, untuk itu mari kita mulai dari kita untuk lebih bersegera dalam melakukan sesuatu.
6. Orang-Orang Menganggap Bahwa Jam Karet Sudah Jadi Budaya
Banyak orang yang merasa bahwa buat apa datang cepat, toh akhirnya acaranya pasti molor. Kira-kira begitulah persepsi sebagian orang, mereka menjadi malas datang tepat waktu (datang cepat) karena mereka meyakini bahwa biasanya acara akan jadi molor. Kebanyakan oran akan datang lebih lambat, minimla setengah jam dari jadwal yang telah ditentukan.
Dan kebiasaan ini sudah jadih kebiasaan, sudah jadi kebiasaan, jadi mau tak mau jelas tidak mudah untuk dihilangkan.
7. Kebiasaan Memaklumi Keadaan
Di Indonesia bukanlah hal yang tabu untuk memaklumi sesuatu. Hal semacam ini tidaklah asing bagi sebagian orang. Akan selalu ada saja alasan agar kita dimaklumi. Kebiasaan memaklumi ini jika terlalu sering dan lama maka menjadi tidaklah baik.
Pemakluman yang terlalu sering akan mengakibatkan kita kurang tegas, dan kalau tidak tegas disiplin pun jadi susah untuk diterapkan. Walhasil imbasnya adalah kebiasaan jam karet menjadi kerap dimaklumi oleh orang-orang.
Nah rekan pembaca itu dia 3 penyebab budaya jam karet tetap eksis di Indonesia saat ini. Tidak ada guna nya kita mengeluhkan keadaan dan budaya jam karet ini. Lebih baik kita menjadikan diri kita lebih baik.
Untuk itu, yuk, kita mulai dari diri kita sendiri, mari belajar disiplin dimulai dari diri sendiri, mari kita lebih tepat waktu dan yang pasti kita harus lebih tegas agar kita bisa disiplin.
