HarianBernas.com ? Saat masih aktif berkampanye, Donald Trump dikenal sebagai figur yang skeptis terhadap perubahan iklim. Namun sikap tersebut nyatanya tidak terlihat ketika dirinya sudah mulai menjadi presiden. Rezim Trump melalui Sekretaris Negaranya yang bernama Rex Tillerson baru-baru ini menandatangani dokumen resmi mengenai ancaman perubahan iklim.
Dokumen bernama Deklarasi Fairbanks tersebut ditandatangani setelah pemerintah AS melakukan pertemuan dengan Dewan Arktik yang beranggotakan suku-suku pribumi setempat dan negara-negara yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Samudera Arktik. Dokumen ini sendiri sifatnya tidak mengikat dan lebih sebagai bentuk pernyataan sikap dari negara-negara terkait.
?Deklarasi Fairbanks menyorot apa yang sudah diklaim oleh (Perjanjian) Paris. Deklarasi ini tidak mengharuskan AS untuk mematuhinya,? tegas anggota Kementerian Negara seperti yang diberitakan oleh ABC News. Perjanjian Paris adalah kesepakatan internasional mengenai pembatasan tingkat emisi untuk mengurangi laju pemanasan global.
Deklarasi Fairbanks menyatakan bahwa Arktik sedang mengalami kenaikan suhu dua kali lebih pesat dibandingkan kenaikan suhu global sehingga membawa dampak di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan. Deklarasi yang sama lantas meminta supaya tindakan berskala global untuk memangkas pengeluaran gas rumah kaca terus dilanjutkan.
Kemauan anggota rezim Donald Trump untuk menandatangani Deklarasi Fairbanks terlihat kontras jika dibandingkan dengan isi kampanyenya menjelang pilpres. Dalam satu kesempatan, Trump sempat menyebut pemanasan global sebagai ?hoax yang sangat mahal?. Ia juga berjanji akan mengurangi pendanaan terhadap studi iklim dan melonggarkan aturan-aturan terkait lingkungan.
Negara-negara sahabat AS sendiri nampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Trump yang terkesan tidak konsisten tersebut. Menlu Kanada Chrystia Freeland mengucapkan rasa terima kasihnya kepada AS atas kemauannya menandatangani Deklarasi Fairbanks.
