HarianBernas.com ? Bahkan bangunan yang didirikan oleh manusia untuk mengantisipasi kiamat pun tidak cukup kuat untuk menangkal dampak perubahan iklim. Bangunan tersebut adalah Global Seed Vault (GSV) yang terletak di Pulau Spitsbergen, Norwegia. Di dalam bangunan ini, tersimpan jutaan benih yang baru akan dikeluarkan jika terjadi bencana berskala global dan manusia yang selamat membutuhkan asupan pangan.
Jadi sebenarnya apa yang terjadi pada GSV? Semakin panasnya suhu permukaan Bumi menyebabkan lapisan es di lingkar Kutub Utara meleleh. Dampaknya, timbul hujan deras dan melelehnya lapisan esi di Spitsbergen. GSV turut menerima dampaknya dan air banjir tersebut menerobos masuk ke dalam lorong bangunan.
Menurut Hege Njaa Aschim yang mengelola GSV, air yang memasuki lorong berangsur-angsur membeku sehingga kondisi di dalam lorong terlihat seperti sungai gletser. Untungnya, air yang menerobos masuk tersebut tidak sampai ke dalam ruangan penampungan biji sehingga tidak ada biji yang mengalami kerusakan.
Namun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Aschim dan rekan-rekannya terpaksa melakukan pengamatan selama 24 jam penuh setiap harinya. ?Itu (GSV) dimaksudkan bisa beroperasi tanpa manusia, namun kami sekarang memantau ruangan biji 24 jam per hari. Kami harus melihat apa yang bisa kami lakukan untuk meminimalkan semua resiko dan memastikan bank biji ini bisa mengurus dirinya sendiri,? jelas Aschim seperti yang dikutip The Guardian.
Aschim sendiri tidak yakin apakah kondisi akan segera berlalu atau justru bakal bertambah parah. ?Kami harus menemukan pemecahannya. Ini adalah tanggung jawab yang besar dan kami mengambilnya dengan sangat serius. Kami melakukan ini semua demi dunia,? kata Aschin.
