HarianBernas.com – Lulu adalah nama dari paus pembunuh yang hidup di sekitar perairan Inggris. Hewan ini sudah sejak lama dipantau para ahli karena paus ini merupakan satu dari sedikit paus pembunuh yang masih dapat dijumpai di perairan Inggris.
Namun bulan Januari 2016 lalu, Lulu menemui kematiannya usai terjerat jaring nelayan. Bangkai Lulu ditemukan di Pulau Tiree yang termasuk dalam negara bagian Skotlandia.
Penyelidikan pada jasad Lulu pun lantas dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian Lulu secara lebih mendetail. Hasil pemeriksaan yang mereka lakukan sungguh mengejutkan. Menurut tim peneliti asal Universitas Abderdeen dan lembaga kelautan SMASS, Lulu memiliki kadar bahan pencemar poliklorinat bifenil (PCB) yang sangat tinggi.
Pemeriksaan pada lapisan lemak Lulu menunjukkan kalau Lulu memiliki kadar PCB 100 kali lebih tinggi dibandingkan ambang batas PCB yang bisa diterima oleh tubuh mamalia laut. SMASS pun dalam situs resminya sampai menyebut Lulu sebagai ?hewan paling terkontaminasi di dunia?.
PCB adalah bahan kimia beracun yang dulu sering digunakan dalam beragam peralatan elekstronik seperti mesin penyejuk dan televisi. Jika PCB masuk ke dalam laut dan tertelan oleh makhluk hidup, PCB akan mengendap di sana dan berpindah melalui rantai makanan. Tingginya kadar PCB yang ada pada tubuh Lulu diperkirakan terjadi karena Lulu mengkonsumsi terlalu banyak hewan laut yang sudah terkontaminasi oleh limbah tersebut.
Jika seekor hewan memiliki terlalu banyak PCB dalam tubuhnya, maka hewan yang bersangkutan akan mengalami gejala-gejala seperti menurunnya kesehatan, melemahnya kekebalan tubuh, dan kemandulan. Lulu dilaporkan sudah berusia 20 tahun sebelum mati, namun ia belum pernah bereproduksi seumur hidupnya.
