HarianBernas.com ? Pemerintah Suriah kembali menjadi sasaran kabar tidak sedap. Menurut tudingan terbaru dari pihak AS seperti yang dilansir oleh CNN, Pemerintah Suriah mengoperasikan krematorium alias tempat pembakaran mayat di dekat kompleks penjara militernya untuk menutup-nutupi pembantaian yang dilakukan oleh pihaknya.
?Walaupun korban tewas oleh rezim sudah terdokumentasi dengan baik, kami percaya bangunan krematorium yang ada di sana adalah upaya untuk menutup-nutupi pembantaian massal di dekat penjara Saydnaya. Kami merasa gempar dengan pembantaian di Suriah yang nampaknya didukung tanpa syarat oleh Rusia,? kata Stuart Jones yang menjabat sebagai asisten sekretaris Departemen Negara untuk kawasan Timur Tengah.
Jones menambahkan kalau jumlah tahanan yang dieksekusi di Saydnaya bisa mencapai 50 orang setiap harinya. Menurut laporan yang pernah diangkat oleh Amnesty International pada bulan Februari, ribuan tahanan di Saydnaya tewas dieksekusi hanya dalam rentang waktu 45 menit. Orang-orang yang dieksekusi tersebut adalah mereka yang menentang rezim Bashar al-Assad.
Jones sendiri enggan merinci apakah negaranya bakal mengambil tindakan militer terkait kasus krematorium ini. Bulan April lalu, kapal perang AS menghujani pangkalan militer Suriah dengan rudal tomahawk tidak lama setelah terjadi serangan gas beracun di Khan Sheikhoun. Namun, Jones menegaskan kalau AS bakal membeberkan bukti-bukti kasus ini ke hadapan dunia internasional.
Bukti-bukti yang dimaksud Jones adalah foto-foto udara yang diambil dari tahun 2013 hingga 2017. Foto-foto tersebut menampilkan pembangunan krematorium di samping kompleks penjara Saydnaya. Ia juga mengaku mendapatkan bukti-bukti tambahan dari informasi intelijen, kesaksian anggota lembaga nonpemerintah, dan liputan media. Jones lantas berkesimpulan kalau dengan merujuk pada kasus-kasus terdahulu, militer Suriah sudah terbiasa melakukan kejahatan kemanusiaan.
