HarianBernas.com ? Sebagai kelompok yang bisa sebesar sekarang melalui perjuangan bersenjata, sudah barang tentu ISIS menjadikan sektor militer sebagai prioritasnya.
Kelompok yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi tersebut senantiasa melakukan inovasi di bidang persenjataan. Senjata yang menjadi fokus pengembangan ISIS bukan hanya senjata konvensional macam senapan dan bom, tetapi juga senjata kimia.
Menurut dokumen yang didapat oleh militer Irak dari Universitas Mosul, ISIS tengah mengembangkan senjata kimia untuk dicampurkan pada makanan. Senjata tersebut terbuat dari bahan-bahan pembuat pestisida yang mudah didapat. Bahan kimia yang digunakan dalam senjata kimia ini diketahui tidak memiliki rasa dan bau sehingga orang yang memakannya awalnya tidak akan merasa curiga.
Masih dalam dokumen yang sama, ISIS diketahui menguji senjata ini pada tahanannya. Salah satu korban yang menjalani uji coba diketahui mengalami pusing, demam, dan sakit perut sebelum kemudian meninggal 10 hari sesudah memakan racun tersebut.
Selain racun makanan dari pestisida, ISIS juga tengah mengembangkan senyawa dari nikotin yang tidak ada penawarnya dan bisa menewaskan korbannya hanya dalam hitungan jam.
Selama tiga tahun terakhir, ISIS diketahui menggunakan laboratorium berfasilitas lengkap di Universitas Mosul untuk mengembangkan persenjataan kimia ini. Senjata kimia yang sama rencananya bakal digunakan untuk meracuni makanan di negara-negara Barat. Dalam dokumen tadi, ISIS mengklaim kalau pihaknya sudah memiliki persediaan racun yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Beredarnya dokumen tersebut tak pelak mengundang kekhawatiran dari negara-negara Barat. Pakar kimia Hamish de Bretton-Gordon memaparkan kalau kegiatan ISIS ini mengingatkan dirinya akan proyek senjata kimia yang pernah dilakukan oleh Nazi.
?Selama Perang Dunia II, Nazi melakukan ribuan percobaan berbahaya dengan gas mustard terhadap tahanan di kamp konsentrasi Sachsenhausen,? jelasnya.
