JAKARTA, HarianBernas.com – Kegagalan adalah guru terbaik, mungkin itulah kata-kata bijak yang tengah dirajut Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) di bawah kepemimpinan Wiranto dalam melahirkan prestasi bulutangkis tanah air.
Kondisi itulah yang dihadapi tim bulutangkis Indonesia saat ini, setelah untuk pertama kalinya gagal lolos dari fase grup Piala Sudirman yang diselenggarakan di Gold Coast, Australia.
Mengawali pertandingan pertama di babak penyisihan grup 1D, Indonesia harus menerima kekalahan 1-4 dari India, tim bulutangkis Indonesia berusaha semaksimal mungkin bangkit di pertandingan kedua menghadapi tim kuat Denmark pada Rabu (24/5). Hasilnya Indonesia sukses meraih kemenangan 3-2 atas Denmark.
Hasil itu membuat Indonesia, Denmark dan India sama-sama mengumpulkan satu poin di Grup D, tapi Indonesia kalah selisih pertandingan (-2), Denmark (+2) India (0).
“Dengan hasil ini bagi saya, saya harus tetap positif thinking, seorang juara tidak mungkin dilalu dengan langsung satu kemenangan. Dengan situasi perbulutangkisan kita saat ini, dimana kita hanya berprestasi di sektor tertentu, justru ini memacu untuk kita, saya dan tim, memacu atlet-atlet bahwa kita memang butuh kerja keras,” kata Manajer tim Indonesia, Susi Susanty kutip dari situs resmi PBSI.
“Bukan kita terpuruk dengan satu kegagalan, tetapi harus membuat kita lebih kuat, lebih berani dan menjadikan kegagalan ini sebagai jembatan untuk mencapai prestasi yang kita inginkan,” tambah Susi.
Mungkin jika dilihat dari torehan di Piala Sudirman, tim bulutangkis Indonesia gagal dan dinilai tidak bisa memberikan prestasi.
Namun apakah itu menjadi tolok ukur prestasi, apalagi jika dilihat dari komposisi atlet yang disertakan, tercatat ada beberapa pemain muda Indonesia berada di luar peringkat 20 besar dunia, yang sengaja dipersiapkan untuk regenerasi, seperti tunggal putri Fitriani yang berada di peringkat 23 dunia, tunggal putra Anthony Ginting berperingkat 23 dunia, serta duet baru ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang tampil pantang menyerah saat menghadapi serangan Denmark.
Apalagi pada sektor tunggal putri dan putra, Indonesia sudah lama tidak melahirkan regenerasi setelah Maria Kristin dan Taufik Hidayat.
Tentunya langkah itu dilakukan untuk mendukung keberhasilan PP PBSI melahirkan regenerasi yang diandalkan pada sektor ganda putra yang diisi pasangan muda Kevin Sanjaya/Markus Gideon serta Praveen Jordan/Debby Susanto disektor ganda campuran untuk mempersembahkan poin.
Namun di tengah proses regenerasi yang membutuhkan proses panjang tersebut, PP PBSI sendiri mengaku, kegagalan di Piala Sudirman akan dijadikan evaluasi untuk mematangkan formula konsep regenerasi yang tepat.
“Hasil di Piala Sudirman saya kira akan menjadi suatu pembelajaran yang penting untuk semua pihak. Terkait di kepengrusan PBSI kali ini untuk bisa berbenah diri dan mengejar ketertinggalan,” kata Sekjen PP PBSI, Achmad Budiharto.
