HarianBernas.com ? Gebrakan terbaru dibuat oleh Pemerintah Filipina. Presiden Rodrigo Duterte pada hari Selasa (23/55/2017) mengumumkan diberlakukannya darurat militer di seluruh Pulau Mindanao, Filipina selatan. Kebijakan ini diambil menyusul terjadinya baku tembak antara personil keamanan Filipina melawan kelompok militan Maute di kota Marawi.
Baku tembak itu sendiri bermula setelah polisi Filipina melakukan penggrebekan di apartemen kota Marawi untuk menangkap pentolan anggota Abu Sayyaf yang bermukim di sana. Namun, penggrebekan tersebut kemudian malah membesar menjadi perang kota. Kontak senjata sudah berhenti pada hari Rabu waktu setempat. Namun menurut pengakuan warga, sebagian besar kota Marawi masih dikuasai oleh Maute.
Jika dibandingkan dengan Abu Sayyaf, Maute memang masih kalah tenar. Namun, kemampuan mereka menguasai satu kota jelas menunjukkan kalau kelompok ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Lantas, sebenarnya siapakah kelompok Maute ini? Apa tujuan dan penyebab mereka berani menantang aparat Filipina?
Menurut pernyataan militer Filipina seperti yang dirangkum oleh Channel News Asia, kelompok ini didirikan oleh tiga serangkai Maute bersaudara yang memiliki koneksi dengan jaringan ekstrimis Timur Tengah. Omarkhayan Romato Maute pernah mengenyam pendidikan di Mesir dan beristrikan orang Indonesia. Abdullah Maute pernah menimba ilmu di Yordania. Hashim Maute pernah ditangkap oleh aparat Filipina, namun berhasil melarikan diri dari penjara Marawi pada tahun lalu.
Maute pertama kali menarik perhatian publik Filipina ketika pada tahun 2013, terjadi ledakan bom di klub malam Cagayan de Oro yang menewaskan 6 orang. Maute kembali beraksi ketika pada bulan September 2016, mereka meledakkan bom di pasar Davao City yang berujung pada tewasnya 16 orang. Maute juga sempat mencoba meledakkan Kedubes AS di Manila pada bulan November lalu. Namun, rencana tersebut gagal terlaksana.
Masih di tahun 2016, Maute menyatakan kesetiannya kepada ISIS dan kemudian memproklamasikan dirinya sebagai IS-Ranao. Menurut laporan yang dibuat oleh pakar keamanan regional Sidney Jones, Maute merupakan kelompok cabang ISIS di Filipina yang paling terampil dan berpendidikan. Mereka lihai memanfaatkan media sosial untuk merekrut anggota dari kalangan mahasiswa Marawi.
Maute juga diketahui melakukan kerja sama dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Kendati unggul jauh dalam hal jumlah personil dan kualitas persenjataan, militer Filipina masih belum berhasil melenyapkan Maute hingga sekarang. Jones lantas memperingatkan kalau kelompok ini mungkin aslinya lebih besar dibandingkan yang selama ini terlihat dari luar.
