HarianBernas.com – Emmanuel Macron dipastikan menjadi pemenang pilpres putaran kedua Perancis. Kemenangan Macron yang mengusung aliran moderat sendiri tidaklah mudah karena ia mengajukan diri menjadi kandidat di tengah menanjaknya tren ideologi sayap kanan dan populisme. Namun mayoritas publik Perancis kenyataannya memiliki sikap berbeda dan memberikan dukungannya kepada Macron.
Batu sandungan lain bagi Macron untuk memenangkan pilpres juga datang dari dunia maya. Di media sosial Twitter, beredar kabar mengenai bocornya e-mail tim sukses Macron hanya dua hari sebelum pilpres digelar. Dokumen-dokumen dalam e-mail itupun lantas beredar dengan cepat bak cendawan di musim hujan sambil disertai tagar #MacronGate.
Pakar telematika Nicole Perlroth memiliki pendapat berbeda. Menurut sosok yang juga bekerja di media New York Times tersebut, cuitan mengenai dugaan skandal e-mail Macron diduga kuat tidak dilakukan oleh pengguna manusia. Melainkan oleh bot alias piranti lunak yang menjalankan suatu akun secara otomatis
Perlroth juga menjelaskan kenapa ia bisa menarik kesimpulan demikian. Menurut pengamatannya, 40 persen cuitan bertagar #MacronGate hanya dilakukan oleh 5 persen akun. Salah satu akun tersebut bahkan diketahui membuat lebih dari 1.600 cuitan hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Jumlah tersebut kurang lebih sama dengan lebih dari satu cuitan per menitnya. Perlroth lantas berkesimpulan kalau tidak mungkin akun tersebut dijalankan oleh manusia karena manusia harus sesekali meninggalkan layar monitor untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lainnya.
Tim sukses Macron sendiri secara terpisah mengakui kalau e-mail mereka memang menjadi korban pembobolan. Namun mereka menjelaskan kalau pelaku peretasan tersebut secara sengaja mencampur adukkan dokumen dari e-mail mereka dengan dokumen hasil rekayasa. Mereka menambahkan kalau tindakan ini dimaksudkan untuk menimbulkan penyesatan publik.
Belum diketahui siapa pelaku pembobolan ini. Kasus pembobolan ini sendiri bukanlah kasus pertama yang menimpa tim sukses Macron. Menurut lembaga keamanan dunia maya Trend Micro yang berbasis di Jepang, pembobolan e-mail yang menimpa tim sukses Macron di masa silam dilakukan oleh kelompok peretas asal Rusia. Kelompok yang sama juga disinyalir memiliki kaitan dengan pembobolan e-mail milik Partai Demokrat AS.
