HarianBernas.com – Krisis ekonomi yang menimpa Venezuela turut membawa pukulan di bidang kesehatan. Kian langkanya barang-barang kebutuhan pokok dan lumpuhnya sistem pelayanan kesehatan menjadi penyebab utamanya.
Menurut data yang dirilis pemerintah Venezuela seperti yang dikutip oleh The Independent, jumlah kasus malaria di Veneuela pada tahun 2016 mencapai lebih dari 240 ribu kasus. Naik 76 persen jika dibandingkan dengan tahun 2015.
Bukan hanya kasus malaria yang mengalami lonjakan. Venezuela juga terancam mengalami krisis kependudukan akibat tingginya kasus kematian ibu hamil. Data yang dirilis oleh pemerintah dan dimuat oleh Reuters menunjukkan kalau angka kematian ibu hamil hingga dua bulan pasca melahirkan pada tahun 2016 mencapai 756 jiwa. Naik hingga 65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Data yang tidak kalah memprihatinkan juga dapat dijumpai di sektor keselamatan bayi. Jumlah bayi usia 1 tahun ke bawah yang meninggal di tahun lalu mencapai 11.466 kasus alias naik 30 persen. Angka tersebut memang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan angka kematian bayi di negara-negara terbelakang Afrika seperti Sudan Selatan dan Republik Demokratik Kongo. Namun adanya tren peningkatan jumlah di Venezuela menyebabkan kasus ini tetap tidak bisa dipandang remeh.
Venezuela merupakan negara Amerika Selatan yang pemasukannya didominasi oleh sektor migas. Menurunnya harga minyak dunia lantas turut berdampak langsung pada merosotnya perekonomian negara dan memburuknya kondisi domestik. Tiga perempat penduduk Venezuela dilaporkan mengalami penurunan berat badan hingga 6 kg pada tahun lalu akibat kian sedikitnya makanan yang tersedia.
Menurut Profesor Wendy Hellerstedt dari Universitas Minnesota, golongan ekonomi rendah di berbagai belahan dunia adalah golongan yang paling rentan mengalami kasus kematian bayi. Ketidakmampuan mereka mengakses fasilitas kesehatan yang memadai menjadi salah satu penyebabnya.
