HarianBernas.com ? Negara manakah yang penduduknya paling banyak meninggal akibat perang? Mungkin anda spontan akan langsung membayangkan negara-negara di Timur Tengah sebagai negara dengan korban jiwa tertinggi. Namun hasil penelitian yang dirilis oleh Intitut Internasional Pembelajaran Strategis (IISS) menunjukkan hasil di luar dugaan.
Berdasarkan survei yang mereka lakukan, Suriah merupakan negara dengan jumlah korban tewas terbanyak akibat perang di tahun 2016. Namun hal yang mengejutkan adalah peringkat kedua tidak diduduki oleh negara-negara konflik di Asia ataupun Afrika. Peringkat kedua diduduki oleh Meksiko yang hingga sekarang masih harus berjibaku dengan perang melawan geng-geng narkoba.
Data yang dirilis oleh IISS menunjukkan kalau di Suriah pada tahun 2016, setidaknya 50 ribu orang tewas akibat perang saudara yang sudah berlangsung di negara tersebut sejak enam tahun silam. Meksiko menyusul di peringkat kedua dengan jumlah korban tewas mencapai 23 ribu jiwa.
?Perang di Irak dan Afganistan secara berturut-turut menyebabkan 17 ribu dan 16 ribu orang meninggal di tahun 2016, walaupun tingkat kematian keduanya masih berada di bawah Meksiko dan Amerika Tengah, yang menerima pemberitaan jauh lebih rendah dibandingkan media dan masyarakat internasional,? jelas penyunting Anastasia Voronkova.
?Adalah hal yang patut diperhatikan kalau peningkatan terbesar jumlah korban tewas terjadi di negara-negara bagian yang menjadi medan perang perebutan pengaruh antara kartel-kartel yang saling bersaing dan semakin terisolasi. Aksi kekerasan semakin bertambah buruk ketika para kartel melakukan kampanye perluasan wilayah, mencoba untuk membersihkan daerah milik kartel rivalnya,? tambah Voronkova.
Laporan IISS juga menunjukkan kalau jumlah total korban tewas akibat perang yang berlangsung sepanjang tahun 2016 menurun menjadi 157 ribu jiwa. Data tahun 2015 dan 2014 secara berturut-turut mencantumkan 167 ribu dan 180 ribu sebagai jumlah total korban jiwa. Di Suriah, jumlah korban tewas pada tahun 2016 mengalami penurunan. Namun di Afganistan dan Irak, terjadi pertambahan jumlah korban tewas. IISS juga melaporkan munculnya
Pemerintah Meksiko turut angkat bicara menanggapi keluarnya laporan dari IISS tersebut. Lewat pernyataan resmi yang dimuat di situsnya, konflik antar geng yang tengah terjadi di Meksiko tidak bisa disamakan dengan perang yang sedang terjadi di negara-negara konflik. Pemerintah Meksiko juga mempertanyakan dari mana IISS mendapatkan data jumlah korban tewas tersebut karena badan statistik Meksiko masih belum merilis data mengenai jumlah kasus pembunuhan yang terjadi di seluruh Meksiko pada tahun 2016.
