HarianBernas.com ? Kekeringan lazimnya dipandang secara negatif. Namun bagi Uganda, kekeringan ibarat berkah terselubung. Pasalnya akibat kekeringan yang terjadi di negara tetangganya, nilai ekspor listrik Uganda ke Kenya melonjak hingga 3 kali lipat sepanjang empat bulan pertama tahun 2017 ini.
AllAfrica.com memberitakan kalau dalam rentang periode tersebut, nilai impor listrik Kenya dari Uganda mencapai 92,3 juta kWh. Padahal dalam periode yang sama di tahun sebelumnya, Kenya hanya mengimpor 13,66 juta kWh listrik dari Uganda.
Kenya sebenarnya berniat mengurangi ketergantungan listrik dari negara tetangganya tersebut. Di tahun 2016, Kenya mengurangi jumlah impor listrik total dari Uganda hingga 50 persen dengan cara memanfaatkan pembangkit listrik bertenaga panas bumi yang mulai beroperasi di wilayah Kenya.
Namun upaya Kenya untuk mencukupi kebutuhan listriknya secara mandiri tidak bisa terlaksana sepanjang awal tahun ini akibat minimnya curah hujan sejak bulan Oktober. Rendahnya curah hujan lantas berdampak pada rendahnya ketinggian air di bendungan yang notabene diperlukan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik setempat.
Impor listrik secara langsung dari Uganda dimungkinkan karena jaringan listrik kedua negara terhubung di kota Tororo. Selain dari Uganda, Kenya juga mengimpor pasokan listrik dari Ethiopia di sebelah utara.
Listrik yang diimpor dari Ethiopia digunakan untuk menyalakan kota Moyale karena kota tersebut tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional Kenya. Menurut data resmi pemerintah Kenya, jumlah listrik yang diimpor dari Ethiopia sejak bulan Januari hingga April 2017 mencapai 870 ribu kWh.
