HarianBernas.com – Emmanuel Macron berhasil memenangkan pemilu presiden Perancis putaran pertama yang dilaksanakan pada bulan April lalu. Kendati kemenangan ini belum memastikan kalau Macron bakal menjadi presiden Perancis berikutnya, Macron diperkirakan bakal memenangkan pilpres putaran kedua pada tanggal 7 Mei mendatang karena dirina didukung oleh kandidat-kandidat peserta pilpres yang tersingkir.
Kemenangan Macron dalam pilpres putaran pertama disambut hangat oleh Uni Eropa karena Macron mendukung keanggotaan Perancis di Uni Eropa. Namun hal tersebut tidak lantas membuat Macron bersikap pasrah saja dengan kondisi Uni Eropa sekarang ini. Dalam wawancaranya dengan wartawan BBC, Macron memperingatkan bahwa Perancis bisa benar-benar keluar dari Uni Eropa suatu hari nanti.
?Saya adalah tokoh pro-Eropa, saya senantiasa membela ide-ide dan kebijakan (Uni) Eropa karena saya percaya itu adalah hal yang sangat penting bagi rakyat Perancis dan bagi posisi negara kita sendiri dalam menghadapi globalisasi,? jelas Macron kepada wawancara BBC.
?Namun dalam waktu yang bersamaan kita harus menghadapi situasi, mendengarkan keluhan rakyat Perancis, dan mendengarkan fakta bahwa mereka sekarang sangat marah. Ketidaksabaran dan penyelewengan yang sedang terjadi di Uni Eropa tidak dapat lagi dipertahankan,? tambahnya.
Macron lantas berjanji bahwa jika dirinya berhasil memenangkan pilpres dan mulai menjabat menjadi presiden Perancis, dia bakal melakukan reformasi dalam tubuh Uni Eropa.
Ia juga memperingatkan bahwa jika kondisi yang sekarang tengah menimpa Uni Eropa tetap dibiarkan berjalan begitu saja, kubu sayap kanan bakal menguasai Perancis dan kemudian menarik Perancis keluar dari Uni Eropa.
Rival yang dihadapi Macron dalam pilpres putaran kedua kela kebetulan adalah Marine Le Pen yang berhaluan sayap kanan jauh. Jika Macron sebisa mungkin ingin mempertahankan keanggotaan Perancis di Uni Eropa, maka Le Pen berjanji menggelar referendum mengenai nasib keanggotan Perancis di Uni Eropa jika berhasil terpilih.
