HarianBernas.com ? Pembangkit listrik bertenaga angin sudah menjadi pemandangan yang kian mudah ditemui di banyak negara. Kendati murah dan tidak menimbulkan polusi, pembangkit macam itu juga tetap memiliki kendalanya sendiri.
Kendala tersebut adalah tidak sembarang lokasi bisa digunakan untuk mendirikan kompleks pembangkit bertenaga angin. Tempat yang hendak digunakan untuk mendirikan kompleks pembangkit haruslah senantiasa berupa padang terbuka yang senantiasa diterpa angin kencang.
Solusi kreatif pun diambil oleh perusahaan energi Statoil untuk mengakali masalah keterbatasan lahan di darat. Mereka mendirikan pembangkit listrik bertenaga angin di tengah-tengah laut. Tepatnya di perairan sebelah utara Skotlandia. Pembangkit ini sekaligus menjadi pembangkit bertenaga angin terapung pertama di dunia.
Kompleks pembangkit bernama Hywind ini sendiri masih bersifat sebagai proyek uji coba. Diharapkan Hywind bisa menyediakan tenaga listrik untuk 20 ribu unit rumah. Jika terbukti berhasil, kompleks pembangkit serupa diharapkan bisa diterapkan juga di lepas pantai Jepang dan Amerika Serikat.
Pihak Statoil mengakui kalau proyek ini menalan biaya yang sama sekali tidak sedikit. Pasalnya masing-masing menara kincir memiliki tinggi 175 meter dengan panjang kincir 75 meter. Namun pihak Statoil optimis kalau di masa depan, mereka bisa menekan biaya pembangunan kompleks turbin angin ini.
Hywind rencananya bakal memiliki 5 menara kincir apung yang terhubung dengan kabel satu sama lain. Jika tidak ada kendala, kompleks Hywind diharapkan sudah bisa mulai beroperasi pada akhir tahun ini. Selain Statoil, perusahaan energi Masdar yang berbasis di Uni Emirat Arab juga terlibat dalam proyek energi alternatif ini.
