HarianBernas.com ? Korea Utara atau Korut selama ini dikenal sebagai negara miskin yang bergantung pada bantuan asing. Namun kenyataannya negara isolasionis tersebut tidak benar-benar menggantungkan diri sepenuhnya pada bantuan pihak luar. Menurut hasil studi Institut Keamanan Finansial (FSI), Korut melalui kelompok peretasnya kini memanfaatkan dunia maya sebagai sumber baru untuk mendapatkan uang.
Keberadaan kelompok peretas Korut sendiri sudah menjadi pengetahuan publik sejak lama. Tahun 2014 lalu, kelompok yang diduga kuat terkait dengan Korut melakukan peretasan ke situs Sony dan membocorkan dokumen-dokumen pribadi milik para pegawainya. Peretasan itu sendiri dilakukan sebagai penolakan atas rencana perilisan film The Interview yang memparodikan sosok pemimpin Korut.
Beberapa bulan lalu, dunia dihebohkan oleh serangan ransomware WannaCry. Komputer yang terkena program menyerupai virus ini akan terkunci jika pemiliknya tidak menyetorkan uang melalui bitcoin.
WannaCry sendiri diketahui sebagai senjata cyber yang dikembangkan oleh badan intelijen NSA dan bocor ke internet. Menurut sejumlah pakar keamanan cyber, kode pemrograman yang bocor tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok peretas Korut untuk melakukan pemerasan melalui wabah serangan WannaCry.
Laporan lain yang dibuat oleh FireEye memaparkan kalau belakangan ini pasukan cyber Korut semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan bermotif finansial. Institusi-institusi keuangan yang berbasis di Korsel menjadi salah satu target utama mereka. FireEye menambahkan kalau Korut juga semakin giat mengumpulkan bitcoin karena mata uang virtual tersebut bisa digunakan tanpa harus membeberkan identitas penggunanya.
