HarianBernas.com ? Lumpur bukanlah benda yang lazim dijadikan komoditas impor. Namun, tidak demikian halnya dengan yang terjadi di Selandia Baru. Pemerintah kota wisata Rotorua di Selandia Baru utara berniat mengimpor lumpur dari Boryeong, Korea Selatan. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. BBC melaporkan kalau pemkot Rotorua berniat mengimpor 5 ton lumpur sekaligus dengan biaya sebesar 90 ribu dollar Selandia Baru (setara 905 juta rupiah).
Baca: Rencana Pembasmian Tikus di Selandia Baru Tuai Pro dan Kontra
Pejabat daerah setempat menjelaskan kalau lumpur yang sudah diimpor akan digunakan untuk festival musim Mudtopia pada bulan Desember mendatang. Ia menambahkan kalau lumpur yang sama bukan hanya akan digunakan untuk satu acara Mudtopia, tapi hingga 5 acara Mudtopia. ?Saya tahu kalau bakal ada pola pikir bahwa Rotorua sudah punya cukup lumpur. Tapi, Anda tidak bisa asal mengambil lumpur dan kemudian melemparkannya ke orang lain. Lumpur itu bisa jadi mengandung sesuatu yang bisa menyebabkan orang-orang sakit,? kata anggota dewan kota Trevor Maxwell mengenai alasan mengapa lumpur untuk Mudtopia sampai harus diimpor. Namun, wacana impor lumpur tersebut tetap menuai tanggapan negatif dari masyarakat Selandia Baru.
Baca: Perusahaan Pos Selandia Baru Bakal Layani Pesan Antar KFC
Pasalnya, biaya untuk mengimpor lumpur ini juga bakal diambil dari simpanan uang pajak. Di media sosial, para netizen mengkritik wacana ini dan menganggap kot Rotorua seharusnya menggunakan uang yang ada untuk masalah sosial yang lebih penting. Boryeong sendiri memang dikenal dengan festival lumpur tahunannya yang berlangsung selama 10 hari. Selain menggelar lomba-lomba di atas lahan berlumpur, festival yang sama juga diisi oleh konser musik dan parade. Festival lumpur yang digelar di Boryeong pada tahun lalu dilaporkan berhasil menarik 4 juta pengunjung dan mengumpulkan pemasukan sebesar 73 milyar won (setara 865 milyar rupiah).
