HarianBernas.com ? Sudah hampir setahun berlalu sejak terjadinya peristiwa percobaan kudeta di Turki. Pasca kudeta yang menargetkan presiden Recep Erdogan tersebut, ratusan ribu penduduk Turki menjadi korban pemecatan dan penahanan massal. Erdogan lantas menuduh ulama Fethullah Gullen yang sedang tinggal di AS sebagai otak dari peristiwa percobaan kudeta tersebut.
Namun laporan yang bertolakbelakang baru-baru ini muncul di Swedia. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Stockholm Center for Freedom (SCF), mereka justru menyimpulkan kalau percobaan kudeta ini dilakukan oleh Erdogan sendiri. Menurut mereka, percobaan kudeta ini hanyalah rekayasa yang dibuat oleh pemerintah Turki untuk menyingkirkan lawan-lawannya.
?Erdogan nampaknya memanfaatkan rumor yang ramai beredar di ibukota Turki dan melakukan pertunjukannya sendiri untuk mencuri kesempatan dan menyalahkan lawannya untuk kemudian ditahan,? kata Abdullah Bozkurt selaku presiden SCF. Ia lantas menambahkan kalau seusai terjadinya peristiwa kudeta, Erdogan menerima banyak keuntungan semisal dikabulkannya usulan perubahan konstitusi yang diajukannya.
SCF dalam situs resminya juga menjabarkan poin-poin singkat mengenai alasan mengapa mereka bisa berkesimpulan kalau percobaan kudeta ini hanyalah rekayasa semata. Sebagai contoh, Hakan Fidan selaku kepala badan intelijen Turki tidak dimintai testimoni dalam proses investigasi kendati ia dikabarkan sempat menerima informasi mengenai isu kudeta dan beberapa kali bertemu dengan petinggi militer Turki menjelang kudeta.
SCF juga memaparkan kalau jumlah perwira militer yang diklaim terlibat dalam kudeta ini tidak sampai 9 ribu personil alias tidak sampai 2 persen dari total personil militer Turki. SCF lantas menegaskan tidak ada cukup bukti jika kelompok pimpinan Gullen memang berada di balik upaya kudeta ini sambil mempertanyakan kenapa pemerintah Turki enggan menerima tawaran Gullen untuk melibatkan tim penyelidik internasional.
