HarianBernas.com ? Merakit sesuatu dengan bermodalkan video panduan dari internet bukanlah hal yang baru. Namun bagaimana jika benda yang ingin dirakit tersebut adalah pesawat? Di Kamboja, hal tersebut benar-benar terjadi. Adalah Paen Long yang berupaya mewujudkan hal tersebut demi mewujudkan impian masa kecilnya untuk menciptakan pesawat sendiri.
Impian untuk menciptakan pesawat sendiri bermula dari suatu peristiwa yang tidak biasa. Ketika Paen baru berusia 7 tahun, ia tanpa sengaja melihat helikopter jatuh dari langit. Warga sekitar pun berkerumun untuk melihat lokasi jatuhnya helikopter, tak terkecuali Paen. Sejak hari itulah, Paen memiliki cita-cita untuk menciptakan pesawatnya sendiri.
Untuk mewujudkan impiannya tersebut, sejak usia 12 tahun Paen berpindah-pindah desa sambil belajar menjadi montir. Namun faktor biaya menyebabkan Paen tidak pernah bisa mengenyam pendidikan tinggi supaya benar-benar bisa menempuh pendidikan formal di bidang penerbangan.
Sekarang Paen berprofesi sebagai montir mobil. Ia juga sudah menikah dengan Hing Mouy Heng dan memiliki dua orang anak. Ketika Hing pertama kali mendengar rencana suaminya tersebut, ia jelas merasa khawatir dan melarang suaminya melanjutkan rencana Paen tadi. Namun karena Paen tetap bersikeras dan berjanji akan menjaga keselamatannya sendiri, Hing akhirnya melunak.
Paen mengaku sebenarnya ia tidak memahami bahasa Inggris yang digunakan dalam video-video yang didapatnya. Namun Paen menambahkan kalau ia bisa memahami informasi yang ada di dalam video tersebut dengan merujuk pada latar belakangnya sebagai montir. Buah karya pertamanya adalah sebuah pesawat kecil yang dikendalikan dengan radio kontrol.
Paen kemudian melanjutkan ambisinya untuk membangun pesawat yang bisa mengangkut manusia. Ia menggunakan perkakas dari kendaraan lain sebagai bahan penyusun pesawat. Roda pesawat misalnya, ia dapatkan dari roda sepeda motor. Sementara tongkat kendali di kokpit ia ambil dari tuas gigi mobil.
Paen juga sudah mencoba pesawat buatannya pada bulan Maret lalu atas anjuran dari sebuah perusahaan telekomunikasi lokal yang ingin mendokumentasikan kisah orang-orang yang sedang mengejar minpinya. Hasilnya tidak begitu menggembirakan karena pesawatnya hanya bisa terbang sebentar sebelum kemudian jatuh ke kolam.
Namun Paen tetap enggan melempar handuk putih. Setelah mengamati bangkai pesawatnya dan menganalisa apa yang salah, ia kembali merakit pesawat baru untuk keperluan penerbangan di atas laut. ?Waktu pembangunannya lebih singkat. Pesawatnya lebih ringan. Resikonya jadi lebih rendah,? kata Paen seperti yang dikutip oleh Al Jazeera.
