HarianBernas.com ? Cerita mengenai G20 bukan hanya mengenai pertemuan antara pemimpin negara-negara anggota. Tetapi juga mengenai demonstrasi yang digelar oleh kelompok antikapitalis dan penentang G20. Demonstrasi itu sendiri berlangsung ricuh karena para demonstran terlibat bentrokan dengan aparat lokal.
Peristiwa tersebut lantas dikritik oleh para pengungsi Timur Tengah yang sedang tinggal di Hamburg. Ibrahim Ali adalah salah satunya. Pria asal Mesir tersebut memperingatkan bahwa jika mereka berani melakukan demonstrasi macam itu di negara asal Ali, maka mereka bakal langsung tewas ditembak di tempat.
Ali juga mengaku tidak habis pikir dengan tindakan kasar para demonstran. ?Negara (Jerman) menyediakan segalanya. Perumahan, tunjangan untuk pengangguran, dan pendidikan. Namun orang-orang ini malah merasa tidak gembira. Saya tidak mengerti,? kata pria berusia 29 tahun tersebut seperti yang dikutip oleh Reuters.
Bukan hanya para imigran Timur Tengah yang mencela tindakan para demonstran. Pendapat serupa juga dilontarkan oleh salah seorang warga lokal yang bernama Sandra Janowitz. Menurut guru berusia 28 tahun tersebut, demonstrasi yang berlangsung di Hamburg begitu menakutkan. Namun ia mengaku bisa memaklumi tindakan mereka.
?Mayoritas (demonstran) adalah remaja yang tidak paham dengan apa yang mereka lakukan. Dan banyak dari mereka adalah warga asing. Mereka kembali ke rumah dan sekarang kami harus berurusan dengan kekacauan ini,? komentar Sandra mengenai kerusakan material yang dibuat oleh para demonstran.
Sebelumnya, Angela Merkel selaku Kanselir Jerman menjelaskan kalau warga Hamburg yang mengalami kerugian material bakal menerima ganti rugi yang pantas. Ia juga memuji tindakan polisi yang berhasil mencegah supaya demonstrasi ini berkembang menjadi tak terkendali.
