HarianBernas.com ? Sudah hampir dua bulan berlalu sejak konflik di Marawi pertama kali meletus. Korban tewas pun terus berjatuhan seiring terus berlangsungnya konflik. Militer Filipina mengumumkan jumlah korban tewas akibat konflik sudah mencapai 500 jiwa lebih. Jumlah tersebut terdiri dari 381 anggota kelompok militan, 39 warga sipil, dan 90 polisi serta tentara.
Namun, pihak militer menambahkan kalau jumlah korban tewas dari kalangan sipil masih sangat mungkin bertambah secara drastis ke depannya. Pasalnya masih banyak warga sipil yang terjebak di wilayah kekuasaan kelompok militan dan mereka sangat mungkin menjadi korban eksekusi.
Pernyataan dari militer Filipina tersebut sekaligus membantah laporan salah satu media setempat kalau korban tewas akibat konflik ini sudah menembus angka 2 ribu jiwa. Sekretaris Pertahanan Delfin Lorenzana menganjurkan publik agar tidak asal menyebarkan informasi yang belum terverifikasi untuk menghindari kebingungan.
?Informasi macam itu bukan hanya penting bagi operasi kami yang masih berjalan. (Informasi) itu juga merusak ekonomi dan citra kita di dunia internasional sebagai sebuah bangsa,? paparnya seperti yang dikutip oleh Al Jazeera.
Untuk memudahkan pelaksanaan operasi militer di Marawi, presiden Filipina sudah mengeluarkan dekrit mengenai darurat militer di Pulau Mindanao selama 60 hari. Namun dekrit tersebut akan berakhir dalam waktu kurang dari 2 minggu. Sejumlah anggota dewan Filipina mengusulkan agar tenggat darurat militer diperpanjang hingga lima tahun lagi.
Marawi merupakan kota yang terletak di Pulau Mindanao, Filipina selatan. Tidak seperti rakyat Filipina pada umumnya yang menganut agama Katolik, kota ini mayoritas penduduknya beragama Islam dan sekarang tengah berada di bawah kekuasaan kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS. Akibat konflik ini, sebanyak lebih dari 300 ribu warga sipil setempat terpaksa mengungsi.
