HarianBernas.com ? Sudah menjadi fenomena yang lumrah terjadi bahwa jika bencana kekeringan terjadi di suatu wilayah, maka penduduk setempat bakal menjadi pihak yang paling menderita. Hal tersebut juga berlaku untuk rakyat Kenya utara. Bencana kekeringan menyebabkan warga desa setempat kehilangan sumber penghidupannya selama ini.
Namun roda kehidupan harus tetap berjalan. Mereka harus tetap mencari nafkah supaya bisa menghidupi diri sendiri beserta anggota keluarganya. Menjadi pekerja seks komersial lantas menjadi pilihan yang diambil oleh kaum wanita supaya bisa tetap bertahan hidup.
?Sejak kekeringan timbul, kami melihat bertambahnya jumlah gadis dan wanita yang terlibat dalam profesi menjajakan seks,? kata Mercy Lwambi dari lembaga palang merah internasional yang berbasis di Kenya. Lwambi menambahkan bahwa pada bulan Februari lalu, mereka sempat menemukan 320 pekerja seks komersial (PSK) yang berkumpul di lokasi yang sama.
Salah satu dari pekerja seks yang pernah ditemui Lwambi diketahui baru berusia 9 tahun. Namun ia sudah harus terjun ke bisnis hitam ini supaya bisa memberi makan keluarganya. ?Mereka butuh makan, mereka perlu hidup, mereka harus pulang sambil membawa makanan. Jadi sebagian besar di antara mereka terjun dalam kegiatan seks komersial,? tutur Lwambi seperti yang dikutip oleh CNN.
Namun kemauan mereka untuk menjadi pekerja seks juga membawa resiko. Tidak sedikit dari para pekerja seks yang masih berusia muda tidak menerima bayaran sepeser pun dan malah dipukuli oleh kliennya. Sementara mereka yang sedikit beruntung hanya menerima upah sebesar 50 shilling (setara 8 ribu rupiah).
Lembaga palang merah yang dibantu oleh Kementerian Kesehatan Kenya sebenarnya sudah memberikan bantuan kemanusiaan dan sumber daya kepada warga Kenya utara yang menjadi korban bencana kekeringan. Namun setelah anggaran untuk keperluan tersebut dipangkas pada tahun 2016, mereka kewalahan menangani para pengungsi yang jumlahnya semakin meningkat.
