HarianBernas.com ? Perang selalu membawa kisah pilu bagi orang-orang yang kebetulan berada di medan konflik. Babakar Ali adalah salah satu orang tersebut. Pria Muslim asal Bangui, Afrika Tengah ini terpaksa mengungsi ke negara tetangga Chad pada tahun 2014 ketika negaranya dilanda perang saudara.
Sebelum perang meletus, Ali memiliki taraf hidup yang terbilang mapan. Ia awalnya memiliki 5 buah rumah dan tanah seluas 18.000 km2. Namun semua itu musnah ketika perang berkecamuk. Sekembalinya ke Bangui pada tahun 2016, yang dimiliki Ali sekarang hanyalah pakaian yang melekat di tubuhnya.
Kondisi Bangui saat Ali dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi memang begitu mencekam. Penduduk Muslim setempat diburu dan dibunuh secara besar-besaran oleh kelompok militan anti-Balaka. Ia juga mengaku melihat sendiri bagaimana mayat-mayat pemuda Muslim setempat diseret di jalanan dan ditimbun di masjid.
Bangui bukanlah satu-satunya kota di mana warga Muslim setempat menjadi sasaran pembantaian anti-Balaka. Warga Muslim yang mendiami kota-kota lain seperti Bossangoa, Bozoum, Bouca, Yaloke, Mbaiki, hingga Bossembele juga tidak bernasib lebih baik. Mereka pun berbondong-bondong mengungsi ke luar negeri dengan hanya membawa perbekalan seadanya.
Ali mengaku sudah bisa menduga kalau dia bakal kembali ke Bangui dengan kondisi tanpa harta benda. Namun hidup harus terus berjalan. Ia kemudian menjelaskan bahwa ia dan orang-orang yang dikenalnya tetap kembali ke Bangui karena mereka tidak tahu lagi harus tinggal di mana begitu meninggalkan tempat pengungsian.
Konflik agama di Afrika Tengah bermula ketika kelompok Seleka yang dipimpin oleh panglima Muslim melakukan kudeta dan menjadi penguasa baru Afrika Tengah pada tahun 2013. Namun situasi keamanan kemudian berubah menjadi buruk ketika para anggota Seleka melakukan penyerangan kepada warga Kristen setempat.
Warga Kristen Afrika Tengah kemudian membalasnya dengan cara membentuk kelompok-kelompok bersenjata yang dikenal dengan sebutan anti-Balaka. Pembantaian dan penjarahan besar-besaran pun timbul di seantero Afrika Tengah. Jumlah warga sipil yang mengungsi untuk menghindari konflik dilaporkan mencapai hampir 1 juta. Ketika mereka sudah pergi, pemukiman mereka lalu diambil paksa oleh orang-orang anti-Balaka.
