HarianBernas.com ? Korea Utara memang memiliki kebijakan politik yang tertutup. Namun hal tersebut tidak lantas membuat negara ini tidak menjalin kontak sama sekali dengan dunia luar. Negara ini tetap melakukan hubungan dagang dengan negara-negara lain.
Reuters memberitakan kalau pabrik-pabrik di Korut juga mengekspor tekstil yang dipasarkan ke luar negeri dengan Tiongkok sebagai perantaranya. Murahnya tarif buruh di Korut menjadi alasan mengapa pedagang Tiongkok semakin sering mengandalkan Korut sebagai sumber komoditas dagangnya.
Mula-mula para pemasok akan membawa kain dan bahan mentah lainnya ke dalam wilayah Korut. Pabrik-pabrik pakaian yang ada di Korut kemudian akan mengolahnya hingga menjadi pakaian yang sudah siap pakai. Pakaian tersebut kemudian dikirim ke Tiongkok supaya bisa dijual.
Dengan melihat jangkauan operasi para pedagang yang menjual ulang komoditas sandang Korut, tekstil yang dibuat di Korut diperkirakan menyebar hingga ke Eropa dan Amerika Utara. Namun untuk menghindari kecurigaan dan stigma negatif dari konsumen, pakaian tersebut dijual dengan label Made In China.
?Kami akan bertanya kepada pemasok Tiongkok kami mengenai siapa yang bekerja dengan kami jika mereka berencana bersikap terbuka dengan klien mereka. Kadang-kadang pembeli akhir sama sekali tidak tahu kalau pakaian mereka dibuat di Korea Utara. Ini adalah isu yang sangat sensitif,? kata seorang pebisnis berdarah Korea yang enggan disebutkan namanya.
Sektor pembuatan pakaian diperkirakan bakal berperan semakin penting bagi perekonomian Korut seiring dengan jatuhnya sanksi baru oleh PBB. Sanksi tersebut melarang Korut mengekspor batu bara, komoditas ekspor terbesar Korut. Namun sanksi yang sama tidak melarang Korut mengekspor pakaian.
Baca juga:
Korea Utara Mendapat Sanksi Baru
Korea Utara Ancam Bakal Serang Pangkalan Militer AS di Pasifik
