Bernas.id ? Bukan hanya konflik di Suriah dan Irak yang menyita perhatian Donald Trump. Presiden AS tersebut juga menaruh perhatian tersendiri terhadap operasi militer di Afganistan yang sudah berlangsung sejak tahun 2001. Alih-alih mundur, Trump justru menegaskan kalau ia ingin menambah jumlah personil militer AS di Afganistan.
Baca Donald Trump Nekat Tatap Langsung Gerhana Matahari AS
Menurut Trump dalam pidato yang dibuatnya pada hari Senin (21/8/2017), pasukan AS harus tetap berada di Afganistan supaya kelompok-kelompok militan macam ISIS dan Al-Qaeda tidak bisa lagi tumbuh di Afganistan. Ia juga menambahkan kalau masalah di Afganistan bakal memiliki dampak yang mencakup seantero kawasan.
Trump tidak menjelaskan berapa banyak personil militer tambahan yang bakal dikirim ke Afganistan. Namun sebelum Trump berpidato, staf pemerintahan AS sempat membocorkan kalau Trump berniat mengirimkan 4 ribu prajurit tambahan. Sekarang ini ada sekitar 8.400 personil militer AS di Afganistan.
Trump juga mengakui kalau terus berlangsungnya perang di Afganistan membuat rakyat AS merasa frustrasi dan ingin supaya pasukan AS di Afganistan segera ditarik mundur. Namun Trump mencoba bersikap optimis dengan menyatakan kalau pada akhirnya, AS yang bakal keluar sebagai menang.
Sekarang ini Taliban menjadi pihak utama yang dilawan oleh pasukan AS di Afganistan. Trump sendiri tidak menutup kemungkinan kalau pihaknya bakal menjajaki opsi perundingan dengan Taliban. ?Namun kita tidak pernah tahu apakah itu bakal terjadi,? kata Trump. ?Amerika akan melanjutkan bantuannya kepada pemerintah Afganistan dan militernya selama mereka berhadapan dengan pasukan Taliban di medan perang.?
Baca Lewat Sampul Edisi Terbaru, Majalah-majalah Amerika Serikat Ramai Sindir Donald Trump
Invasi militer AS dan sekutunya ke Afganistan terjadi pada tahun 2001 seusai peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC. Menurut AS, pelaku penyerangan tersebut adalah kelompok Al-Qaeda yang bermarkas di Afganistan. Invasi tersebut memang sukses menggulingkan rezim Taliban yang bersekutu dengan Al-Qaeda, namun masih aktifnya Taliban menyebabkan pasukan koalisi masih belum ditarik mundur hingga sekarang.
