HarianBernas.com ? Dari pahlawan menjadi pesakitan. Itulah kalimat yang cukup tepat untuk menggambarkan nasib Marcus Hutchins. Pakar komputer berusia 22 tahun tersebut sempat disanjung di seluruh dunia karena berhasil menemukan titik lemah program ransomware ?WannaCry? pada bulan Mei lalu.
Namun sekarang Hutchins justru harus mendekam di balik jeruji besi. Pria asal Inggris tersebut ditangkap oleh polisi AS di Las Vegas atas tuduhan membuat program untuk membantu menguras uang tabungan bank. Ia ditangkap saat hendak pulang ke Inggris usai mengikuti konferensi antara sesama peretas dan pakar komputer.
Menurut pengadilan federal Wisconsin, Hutchins diduga kuat sebagai pencipta virus trojan yang bernama Kronos. Program ini akan menyelinap ke dalam browser yang digunakan pada komputer di bank dan institusi terpecaya lainnya. Ketika seseorang mengetikkan ID dan passwordnya, program ini akan merekam dan menyimpan data yang ia masukkan.
Dalam dakwaan yang dikeluarkan oleh pihak pengadilan, Hutchins beserta rekannya pada tahun 2014 hingga 2015 lalu bergabung ke forum-forum internet untuk mempromosikan program Kronos yang mereka buat. Program tersebut kemudian disebarkan melalui jaringan internet tersembunyi AlphaBay yang sudah ditutup oleh pihak keamanan internasional pada bulan Juli lalu.
Sahabat Hucthins yang bernama Andrew Mabbitt mengaku tidak percaya kalau Hutchins terlibat dalam aktivitas pembuatan dan penyebaran Kronos. ?Dia (Hutchins) menghabisan waktu untuk menghentikan malware, bukan membuatnya,? kata pakar komputer yang sekarang tinggal di Las Vegas tersebut.
Secara terpisah, Profesor Orin Kerr dari Universitas George Washington meragukan apakah Hutchins bisa dijerat secara hukum. Menurut Kerr seperti yang diberitakan oleh AP, Kronos aslinya merupakan program yang berulang kali dimodifikasi oleh banyak pihak. Ia kemudian menambahkan kalau pihak penuntut harus bisa membuktikan apakah Hutchins memang merancang programnya untuk mengincar target yang spesifik.
