Bernas.id – ?Dulu di kantor sering banget pumping (memompa ASI) bareng, terus kita ngobrol pengen bikin bisnis,? tutur Della Permata Sari tentang awal mula ia dan Fatyah Adzikra, sahabat di perusahaan tempatnya bekerja, memutuskan untuk terjun ke dunia wirausaha.
Pemilihan produk alas kaki yang mereka jual dilandasi pengalaman Dzikra saat kuliah yang sempat berbisnis sepatu, tetapi terhenti di tengah jalan. Melihat teman lain yang seperjuangan kini sudah berhasil, memunculkan penyesalannya mengapa dulu terlalu cepat menyerah. Dari situ keduanya lalu bertekad memulai bisnis bersama.
Kekompakan sepasang sahabat yang terpaut usia dua tahun ini dapat terlihat dari mulai tahap brainstorming desain, pemilihan material dan bahan, pencarian vendor produksi, sampai urusan administrasi dan pelayanan konsumen. Semua nyaris dilakukan hanya oleh mereka berdua. Beruntungnya, ada tambahan bantuan tenaga dari suami masing-masing. Mengenai bagaimana membagi waktu antara pekerjaan kantoran dan bisnisnya, Della menjelaskan bahwa selalu ada waktu di sela-sela aktivitas harian mereka, misalnya pagi-pagi sebelum memulai kerja atau bisa juga setelah jam pulang kantor.
Meski belum genap satu tahun usia Phase, brand sepatu yang Della dan Dzikra jual, sudah cukup terasa suka-duka dari bisnis yang mereka jalani. Sukanya, bagi Della sang co-founder, ialah ketika memilih dan mendesain model-model sepatu terbaru yang akan diluncurkan. Sementara dukanya lebih kepada saat ia harus memutar otak mencari cara bagaimana menghabiskan stok barang. ?Biar duitnya muter, nggak stuck,? imbuhnya.
Pengalaman lainnya yang juga cukup menantang ialah saat mencari vendor yang akan memproduksi sepatu hasil rancangan mereka. Della mengaku sempat terjadi gambling. Hanya dengan bermodalkan googling dan melihat review orang lain, ia dan Dzikra kemudian mendatangi vendor tersebut untuk membuat sampel.
Ketika hasilnya sesuai harapan dan harganya cocok, mereka melanjutkan kerjasamanya dengan sang vendor. Namun pernah juga terpaksa ada dua vendor yang dibatalkan karena hasil produksinya kurang memuaskan. Mengenai material dan bahan sepatu, Della dan Dzikra pula yang memilih dan membelinya sendiri. Kecuali jika bahannya sudah jelas, misalnya kulit asli warna hitam, mereka bisa meminta tolong vendor yang membelikannya sekalian.
Hal itulah yang menjadikan Phase boleh dibilang berbeda dari merek-merek sepatu wanita yang telah beredar di pasaran. Keunggulannya ada pada pengerjaan sepatu secara handmade. ?Jadi beneran bikinnya di tukang sepatu, satu-satu dikerjain, bukan pabrikan yang langsung sekodi dalam sekejap. Terus bisa bikin customized dari warna, jenis bahan, termasuk model. Tapi kita khususkan untuk modelnya di seputar boots, loafers, dan flat shoes,? ungkap Della yang telah dikaruniai satu orang putri, tentang kebanggaan terhadap produknya.
Tak ingin berpuas diri sampai di situ, Phase masih akan terus dikembangkan oleh kedua sahabat yang berlatar belakang pendidikan Farmasi tersebut. Sesuai dengan arti dari ?phase? yaitu fase, di mana hidup memiliki banyak fase, diharapkan bisnis ini akan terus survive sampai besar dan sukses. Rencana ke depan, mereka menargetkan ada new launch setiap bulannya. Selain itu juga makin sering berpartisipasi dalam kegiatan bazaar dan memperkuat branding. Saat ini Della dan Dzikra sedang memikirkan untuk bundling produk sepatu dengan baju milik usaha rekan mereka. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya Phase juga akan memperluas produksi berupa tas wanita.
Untuk strategi pemasaran, saat ini mereka memanfaatkan iklan dan meng-endorse selebgram. Terbukti jika iklan atau endorsement-nya tepat, pemesana bisa langsung mengalami peningkatan. Selain menggunakan media sosial Instagram dengan akun @phase.id, Phase juga kini memiliki fanpage Facebook dan telah berhasil bekerjasama dengan Berrybenka, salah satu situs belanja online fesyen dan kecantikan ternama yang menjual lebih dari 1.000 merek lokal dan internasional. Ke depannya, mereka juga berencana menitipkan produk di salah satu offline store di Bandung dengan sistem konsinyasi.
Ketika ditanya mengenai bagaimana rasanya berbisnis bareng sahabat, Della menjelaskan bahwa ia dan Dzikra dapat saling membantu. Baik dalam hal modal, bertukar pikiran, dan bisa mem-back up di saat yang lain berhalangan. Bahkan selama ini tidak pernah ada konflik antara keduanya.
?Bisa aja sih milih partner yang emang mau kerja secara profesional, tapi yang lebih penting itu kita sreg sama orangnya, bisa cocok secara kerjaan maupun pertemanan,? tegas Della kemudian.
