Bernas.id ? Dari pahlawan menjadi pecundang. Mungkin itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan nasib Carles Puigdemont. Presiden daerah otonomi Catalonia tersebut kini harus lengser dari jabatannya karena nekat mendeklarasikan kemerdekaan Catalonia kendati tidak mendapatkan restu dari pemerintah pusat Spanyol.
Namun kabar buruk untuk Puigdemont belum sampai di sana. Sekarang ia bersama sejumlah koleganya terancam ditangkap atas tuduhan melakukan pemberontakan dan menyalahgunakan anggaran negara. Jika terbukti bersalah, Puigdemont bisa menghabiskan waktu hingga 30 tahun di balik jeruji besi.
Situasi tersebut lantas membuat Spanyol tidak aman lagi bagi Puigdemont. Menurut Paul Bekaert yang bertindak sebagai pengacara Puigdemont, kliennya tersebut sekarang tengah berada di Belgia. Namun tidak diketahui apakah Puigdemont berniat mencari suaka di negara tersebut.
Pemerintah Belgia sendiri melalui salah seorang menterinya menyatakan kalau Puigdemont bisa mencari suaka di Belgia jika ia menginginkannya. ?Rakyat Catalonia yang merasa terancam secara politis dapat mencari suaka di Belgia. Ini juga termasuk untuk Presiden Puigdemont,? kata sekretaris urusan suaka Belgia Theo Francken.
Seperti halnya Spanyol, Belgia juga memiliki wilayah dengan potensi kemerdekaan tinggi. Wilayah tersebut adalah Flemish yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa resminya. Kebetulan Francken berasal dari partai NVA yang getol mengkampanyekan otonomi luas dan kemerdekaan untuk wilayah Flemish.
Di Spanyol sendiri, pemerintah pusat Spanyol sudah membekukan otonomi khusus yang selama ini dimiliki Catalonia dan memerintahkan digelarnya pemilu ulang untuk daerah tersebut. Pemilu yang dimaksud rencananya akan digelar pada bulan Desember mendatang dan diharapkan bisa mengakhiri krisis politik di Catalonia.
