Bernas.id ? Bangladesh menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampak dari berlanjutnya konflik di Myanmar barat. Pasalnya konflik di wilayah tersebut memaksa warga Rohingya setempat untuk mengungsi keluar negeri. Karena wilayah Bangladesh berbatasan langsung dengan Myanmar, Bangladesh pun menjadi negara tujuan utama para pengungsi tadi.
Masih berlanjutnya arus pengungsi warga Rohingya lantas berimbas pada kian terbatasnya lahan yang masih bisa ditempati oleh para pengungsi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Bangladesh berencana memberlakukan kebijakan sterilisasi atau keluarga berencana kepada keluarga Rohingya.
Menurut Pintu Kanti Bhattacharjee yang bertugas menangani warga pengungsi Rohingya di Cox Bazar, keluarga pengungsi Rohingya memiliki kesadaran yang rendah mengenai kontrol kelahiran. Sejumlah orang tua pengungsi yang dijumpai oleh Pintu bahkan diketahui memiliki anak hingga 19 orang.
Otoritas penanganan pengungsi setempat sudah mengedarkan 549 paket kondom kepada keluarga-keluarga pengungsi setempat dengan maksud mencegah timbulnya angka kelahiran yang tidak terkendali. Namun sayangnya rencana tersebut berjalan tidak sesuai harapan karena para pengungsi tadi enggan menggunakannya.
Adanya pola pikir kalau keluarga besar akan memudahkan mereka bertahan hidup menjadi salah satu penyebabnya. Sementara menurut penuturan relawan lain yang bernama Farhana Sultana, kaum wanita Rohingya juga enggan berkunjung ke klinik semasa masih di Myanmar karena curiga dokter klinik anak memberikan obat-obatan yang membahayakan anak-anak mereka.
Sebanyak lebih dari 600 ribu warga Rohingya diperkirakan sekarang sedang bermukim di Bangladesh usai timbulnya konflik di negara bagian Rakhine. Menurut data pemerintah Bangladesh, sebanyak 20 ribu di antara mereka sedang berada dalam kondisi hamil. Namun jumlah tersebut diperkirakan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya karena banyak warga Rohingya yang melakukan persalinan tanpa melalui jalur medis yang resmi.
