Bernas.id ? Militer Myanmar tengah menjadi sorotan internasional akibat tindakan mereka terhadap etnis Rohingya di wilayah barat negaranya. Kritikan dan kecaman bertubi-tubi pun menimpa otoritas Myanmar. Namun hal tersebut nampaknya tidak dipedulikan oleh Israel yang tetap bersedia menjual alutsistanya ke negara tetangga Thailand tersebut.
Bulan April lalu, AL Myanmar melalui akun Facebook-nya memamerkan foto-foto kendaraan tempur terbarunya. Dalam foto-foto tersebut, nampak dua kapal perang Super Dvora Mk III buatan Israel. Dalam postingan yang sama, AL Myanmar menyatakan rasa gembiranya atas keberhasilan mereka mendatangkan dua kapal perang tadi.
Kapal perang Super Dvora sendiri adalah kapal perang kecil yang dilengkapi dengan instalasi senapan mesin dan meriam berkaliber 30 mm. Ukurannya yang kecil menyebabkan kapal ini bisa beroperasi di tepi pantai dan di dalam sungai sama baiknya.
Menurut media Haaretz yang berbasis di Israel, ada total 4 kapal perang Super Dvora yang dipesan oleh pihak Myanmar. Namun dua kapal perang sisanya rencananya akan dirakit di Myanmar dengan dibantu oleh Israel.
Beredarnya kabar penjualan kapal perang Israel ke Myanmar tak pelak menjadi sumber kontroversi, termasuk di dalam Israel sendiri. Pengacara Eitay Mack adalah salah satunya. Ia memperingatkan bahwa kapal-kapal perang tadi bisa dimanfaatkan oleh AL Myanmar untuk menenggelamkan kapal-kapal yang mengangkut pengungsi Rohingya.
Mack sendiri pada bulan Januari sudah mengirimkan petisi kepada Pengadilan Tinggi Israel supaya Israel tidak bisa menjual alutsista ke Myanmar. Namun Kementerian Pertahanan Israel membela diri dengan menyatakan kalau pengadilan tidak memiliki wewenang untuk mencampuri masalah transaksi ini.
Aksi kekerasan sistematis yang dilakukan oleh aparat Myanmar kepada warga Rohingya sudah sejak lama diketahui. Bulan November tahun lalu, militer Myanmar dituduh membakar ribuan rumah milik warga Rohingya di negara bagian Rakhine. Selama dua bulan terakhir, militer Myanmar menggelar operasi militer yang berdampak pada terusirnya ratusan ribu warga Rohingya keluar negeri.
