Bernas.id – Dewasa ini, siapa yang tak kenal dengan platform media sosial Instagram? Sejak pertama beroperasi di tahun 2010, Instagram mencapai ketenarannya di kalangan pengguna internet Indonesia pada tahun 2014. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) merilis hasil risetnya bahwa Instagram merupakan laman media sosial kedua yang paling sering dikunjungi. Berada di bawah Facebook, dengan jumlah 19,9 juta orang atau sebesar 15%. Indonesia juga menjadi negara pengunjung situs Instagram terbesar se-Asia Pasifik, dengan monthly active user sebanyak 45 juta.
Menurut data pribadi Instagram yang dipublikasi secara luas, 89% pengguna Indonesia berasal dari kelompok usia 18-34 tahun. Mereka mengakses kurang lebih setiap satu minggu sekali, dengan mayoritas perempuan sebesar 63%. Rata-rata pengguna Instagram tersebut mengunggah 150 foto dalam sebulan, dengan lebih dari 80 juta foto dan video dibagikan setiap harinya. Dari konten-konten tersebut, dihasilkan 3,5 miliar likes per harinya.
Berdasarkan temuan yang dilakukan TNS, salah satu lembaga riset di Inggris, masyarakat Indonesia menggunakan Instagram untuk mencari inspirasi, berbagi pengalaman saat bepergian, serta mencari informasi dan tren terbaru. Sebanyak 88% dari mereka menambahkan filter pada foto yang di-upload. Sementara sebanyak 49% membeli produk dari brand atau penjual yang mereka ikuti (follow).
Tingginya jumlah pengguna Instagram bisa jadi dikarenakan kekhasan yang dimilikinya. Berbeda dengan Facebook dan Twitter yang didominasi oleh tulisan, Instagram memfokuskan penyajian lewat visual berupa foto dan video. Hal ini menarik bagi netizen untuk menampilkan kreativitas mereka di jagat dunia maya.
Dengan konsisten membagikan karya-karya foto maupun video di Instagram, laman akun penggunanya bisa dikunjungi ratusan bahkan ribuan orang. Dari sinilah kemudian muncul istilah ?selebgram? atau singkatan dari selebriti Instagram. Menurut Rade Tampubolon, CEO Sociabuzz, seseorang bisa dikatakan sebagai selebgram jika memiliki minimal 20.000 followers.
Di Indonesia, para pengguna Instagram dengan jumlah pengikut terbanyak, masih didominasi oleh selebriti layar kaca. Namun ternyata banyak juga selebgram yang meraih popularitasnya bukan dari kalangan artis. Mereka bisa datang dari pecinta fotografi, kuliner, seseorang dengan hobi make up, hijabers, dan lain sebagainya. Berbekal konten yang menarik serta konsisten, maka jumlah pengikut mereka di Instagram pun akan bertambah.
Sebagai selebgram, tak heran jika setiap saat mereka membagikan foto atau video, perhatian para followers langsung terpusat padanya. Dalam sekejap, postingan tersebut akan banjir likes maupun komentar. Tak hanya itu, sang selebgram pun lantas digemari dan dijadikan panutan.
Meski demikian, ada kalanya seseorang menjadi selebgram karena sensasi yang dibuatnya. Foto-foto dan video yang diunggah ke laman akunnya kebanyakan mengundang kontroversi. Salah satu yang sempat menyita perhatian adalah seorang gadis remaja yang sering memuat gambar-gambar dirinya dan sang kekasih. Foto-foto itu kebanyakan vulgar dan tak sesuai etika ketimuran. Sayangnya, banyak followers yang terlanjur mengagumi selebgram tersebut dan berkeinginan meneladani perilakunya. Terlihat dari komentar-komentar pujian yang disertai hashtag #relationshipgoals, #couplegoals, atau #lifegoals. Walau hanya sebatas tulisan, bukan tidak mungkin anak-anak muda di luar sana meniru gaya hidup sang artis tersebut. Tentu hal ini akan berdampak buruk bagi masa depan generasi penerus bangsa bukan?
Selain akun berkonten negatif, ada pula kasus di mana posting-an seorang selebgram mengundang polemik di kalangan pengikutnya. Seperti yang dilakukan oleh seorang musisi papan atas yang baru saja menjadi ibu dari seorang anak laki-laki cerdas dan lucu. Maksudnya baik, ingin berbagi pengalaman kehamilan, melahirkan, sekaligus mendidik buah hati yang antimainstream, sebagai inspirasi bagi masyarakat luas. Namun nyatanya tak sedikit warganet bahkan para ahli kesehatan yang mengritik beliau. Pasalnya, jika tips-tips tak umum tersebut serta-merta diduplikasi masyarakat awam tanpa dibarengi ilmu pengetahuan dan pendampingan tenaga medis yang mumpuni, bisa terjadi risiko yang membahayakan.
Lebih jauh lagi, pengguna Instagram juga dapat terseret pada khayalan utopis yang ditampilkan lewat unggahan foto-foto selebgram berpoles editan. Seseorang kemudian berisiko mengalami depresi apabila terus membandingkan kenyataan dirinya dengan kesempurnaan semu yang disajikan oleh para selebgram. Padahal, belum tentu para selebriti itu selalu bahagia. Karena setiap orang pasti memiliki ujiannya sendiri-sendiri, yang tak ingin jadi konsumsi publik demi menjaga image diri.
Oleh karena itu, tingginya jumlah pengguna Instagram semestinya disertai dengan kecerdasan bermedia sosial. Kita dituntut untuk bijak dalam mengagumi dan mengikuti gaya hidup para selebgram.
Begitu pun sebaliknya, para public figure yang telah meraup ketenaran melalui media sosial khususnya Instagram, harus turut mengedukasi masyakarat luas. Sudah selayaknya mereka tak melulu menjerumuskan followers dengan kepalsuan semata, melainkan juga menebarkan kebaikan yang bermanfaat secara nyata.
