Bernas.id – Menikah adalah menyempurnakan setengah agama. Mengapa? Kita salat mungkin berkisar 5 sampai 10 menit. Kita pergi menunaikan ibadah haji juga hanya 40 hari. Sedangkan menikah itu bukan hanya ibadah yang dilakukan satu atau dua hari tetapi untuk seumur hidup. Oleh karena itu, menikah sama dengan setengah agama.
Bayangkan, ibadah kita yang sebentar seperti salat, mengaji dan puasa saja terkadang berat untuk menjalaninya. Apalagi pernikahan yang seumur hidup? Akan ada banyak ujian yang menghadang di depan seperti perbedaan pola pikir dengan pasangan, masalah ekonomi dan masalah anak-anak. Namun, di balik itu akan ada ganjaran pahala yang berlipat pula. Setiap keringat yang jatuh karena lelah dalam mencari nafkah ataupun dalam mengurus rumah sudah mendapat kebaikan. Bahkan gandengan tangan saja mendapat pahala.
Oleh karena itu untuk melakukan ibadah menikah yang seumur hidup perlu persiapan yang matang. Persiapannya tak hanya tentang ilmu pra nikah tetapi juga perlu menyiapkan ilmu parenting. Karena anak yang kelak akan hadir di keluarga adalah amanah dari Allah. Anak-anak itu perlu dididik dan dibesarkan dengan baik agar kelak ia tumbuh dalam keadaan mental dan fisik yang sehat. Ia pun kelak adalah calon pemimpin bangsa kita.
Apa saja yang perlu disiapkan? Yuria Cleopatra atau biasa dipanggil dengan Teh Patra dalam acara ?Productive Parents? memaparkan beberapa hal yang perlu disiapkan dan dilatih agar siap menjadi orang tua. Hal-hal tersebut antara lain:
1. Paham Akan Tantangan Pengasuhan
Sebagai calon orang tua, kita harus 'ngeh' dulu dengan tantangan pengasuhan yang akan kita hadapi. Tantangannya adalah kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknologi seperti mata pisau. Di satu sisi iya membawa dampak positif tetapi disisi lain membawa dampak negatif. Adanya teknologi memudahkan para anak untuk mengakses konten pornografi. Bahkan akses terbesar anak-anak melihat konten pornografi adalah di rumahnya sendiri.
Dengan kecanggihan teknologi tersebut, kini kenakalan remaja tidak hanya sebatas melompat jendela untuk bolos sekolah. Melainkan mereka sudah mulai banyak yang melakukan seks bebas bahkan di rumahnya sendiri. Tak hanya remaja, anak kelas 3 SD pun sudah ada yang dengan bangga mem-publish foto setelah tidur dengan teman lawan jenisnya. Bahkan yang menjadi pengedar narkoba bukanlah orang dewasa melainkan teman-temannya sendiri.
Tak hanya itu, Teh Patra menyampaikan bahwa tantangan saat ini juga hadir dari kaum LGBT. Mereka sekarang sudah mulai terang-terangan menampakkan diri. Mereka pun telah menyebarkan penyakit secara sadar kepada orang lain. Ada 5 orang yang berubah menjadi gay setiap hari di sebuah kota di Indonesia.
Tantangan yang lain adalah bullying yang semakin merebak. Kalau dulu bullying hanya sampai pada pukul-pukulan sekarang anak-anak tega mem-bully hingga menyebabkan kematian.
Begitu tragis potret remaja saat ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk mengatasi itu, para orang tua perlu menanamkan nilai-nilai Islam bahwa hal itu dilarang dalam Islam.
2. Akhlak Lembut dan Santun
Untuk dapat mengasuh dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik maka orang tuanya terlebih dahulu yang perlu memiliki akhlak lembut tersebut. Akhlak mulia itu tak serta merta datang, kita perlu melatih diri dalam keseharian kita. Orang yang sebelumnya telah terbiasa berakhlak lembut maka akan ketika mempunyai anak akan mudah mencontohkan kepada anaknya. Jika ibunya sering senyum, anaknya juga akan mengikuti dan mudah senyum. Dan berbagai contoh lainnya.
3. Menjadi Pendengar yang Baik
Sejak sebelum menikah dan mempunyai anak, latihlah diri kita untuk menjadi pendengar yang baik. Jangan sampai kelak anak baru berbicara satu kalimat dan belum selesai, kita sudah menyerangnya dengan berbagai omelan. Akibatnya anak-anak merasa sepi dan tidak dekat dengan orang tuanya. Kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik ini nggak instan tetapi perlu dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
4. Membentuk Syura
Dalam Al Quran ada anjuran untuk membentuk syura. Dan anggota syura itu bukan hanya orang dewasa, suami dan istri saja melainkan anak-anak itu juga bagian dari syura. Jadi penting untuk membentuk syura ketika kelak mempunyai anak-anak. Dan tentunya ilmu yang disampaikan di syura perlu kita pelajari dari sekarang.
Kapan anak-anak mulai di ajak syura? Teh Patra menyampaikan bahwa jika anak-anak itu telah mampu menjawab pertanyaan kita dengan baik berarti mereka sudah dapat diajak untuk ikut syura. Dengan adanya syura itulah yang akhirnya menjadi kunci berlangsungnya kekompakan dalam keluarga sampai mereka dewasa.
5. Doa
Doa yang paling terkenal adalah doa dari Nabi Ibrahim yang berbunyi:
Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama?(QS Al Furqon 74)
Artinya : Wahai Rabb kami, karuniakanlah pada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Sebelum menikah dan setelahnya, panjatkanlah doa Nabi Ibrahim ini. Ketika belum dikaruniai janganlah merasa bahwa diri tidak layak karena Nabi Ibrahim pun baru dikarunia anak setelah usia beliau sangat tua. Pahamilah bahwa apa yang diberikan oleh saat itu adalah yang terbaik.
Jadikanlah visi misi kita bahwa anak-anak yang terlahir bukanlah anak biasa-biasa saja, melainkan untuk membentuk anak-anak kita agar mampu memimpin umat, menjadi teladan dan berkontribusi untuk perbaikan umat.
Itulah hal-hal tentang parenting yang bisa kita pelajari dan latih. Semoga dengan ini, anak-anak kita kelak dapat menjadi pengubah perdaban yang lebih baik
