Bernas.id ? Keluar kandang singa, masuk ke lubang buaya. Itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi pengungsi Rohingya di Bangladesh. Setelah menghadapi ancaman penganiayaan dan pembunuhan di kampung halamannya di Myanmar, mereka harus menghadapi ancaman baru di tempat pengungsian. Ancaman tersebut adalah wabah penyakit kolera.
?Ada resiko yang sangat jelas mengenai kolera,? kata N. Paranietharan, perwakilan lembaga kesehatan WHO di Bangladesh.?Kasus-kasus sporadis tidak akan terelakkan. Namun kami rasa tidak akan ada wabah besar-besaran seperti yang terjadi di Yaman?.
Kolera adalah penyakit pencernaan yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini timbul jika korban mengkonsumsi air yang sudah tercemar oleh limbah, khususnya tinja manusia. Dilaporkan setidaknya 750 ribu pengungsi di Yaman harus kehilangan nyawanya akibat wabah kolera.
WHO sendiri sudah mengambil tindakan untuk mencegah wabah serupa meledak di kamp-kamp pengungsian Bangladesh. Menurut laporan Reuters, WHO sudah mulai mendistribusikan 900 ribu dosis vaksin kolera. Namun Paranietharan menegaskan bahwa vaksinasi saja tidaklah cukup untuk menangkal wabah kolera.
?Fasilitas sanitasi dan promosi kebersihan masih belum memenuhi standar. Hal tersebut harus segera diperbaiki secepatnya,? kata Paranietharan saat mengomentari sumber air minum yang digunakan oleh pengungsi Rohingya. Banyak dari sumur yang digunakan oleh para pengungsi hanyalah sumur dangkal yang rawan terkontaminasi oleh limbah.
Awal Oktober ini dikabarkan sudah ada laporan mengenai 10 ribu pengungsi Rohingya yang terjangkit diare. Menurut Paranietharan, pihaknya hanya bisa melakukan penanganan jika jumlah kasusnya tidak sampai 70 ribu.
