Bernas.id ? Masih hangat dalam benak kita mengenai kebijakan Donald Trump untuk membangun tembok pemisah di perbatasan AS dengan Meksiko. Kendati terlihat kontroversial, nyatanya kebijakan tersebut mulai ditiru oleh negara-negara lain. Salah satunya adalah Pakistan.
Reuters memberitakan kalau Pakistan tengah membangun tembok pagar sepanjang 2.500 km di perbatasannya dengan Afganistan. Tujuannya untuk mencegah wilayah Pakistan disusupi oleh anggota kelompok militan yang datang dari negara tetangganya.
?(Tembok pembatas) pernah ada di Jerman, juga di Meksiko. Tembok tersebut ada di berbagai belahan dunia. Jadi kenapa Pakistan dan Afganistan tidak (memilikinya juga)?? kata Kolonel Muhammad Usman dari Korps Perbatasan Pakistan saat menjelaskan pertimbangan di balik wacana kontroversial ini.
?Trump melakukannya atas pertimbangan Amerika. Kami melakukannya atas pertimbangan Pakistan,? tambah Usman. Pemerintah Pakistan juga memiliki rencana membangun 100 pos militer baru di perbatasan dan merekrut 30 ribu prajurit tambahan untuk mengisi pos-pos tersebut.
Tembok ini sendiri dibangun membelah sejumlah desa milik etnis Pashtun yang penduduknya kerap menyeberang antar perbatasan secara bebas. Sekarang pemerintah provinsi Balochistan tengah melakukan upaya relokasi supaya semua warga negara Pakistan yang ada di desa-desa tersebut tidak tercerai berai oleh tembok.
?Tidak akan ada lagi teroris atau tersangka yang menyusup dari wilayah Afganistan… namun usaha kecil-kecilan saya, yang saya lakukan bersama dengan orang-orang Afganistan, bakal ikut terpengaruh,? kata Abdul Jabbar menyuarakan kekhawatirannya atas wacana ini. Sehari-harinya, Jabbar mengelola sebuah toko kecil di Killi Jahangir.
Namun, warga lain semisal Abdul Razzaq memiliki pendapat yang lebih positif mengenai wacana pembangunan pagar penghalang ini. Menurut pria berusia kepala tiga yang berprofesi sebagai supir taksi tersebut, dibangunnya pagar ini bakal membantunya tidur nyenyak tanpa harus khawatir akan serangan anggota militan di malam hari.
