Bernas.id ? Di banyak negara, pejabat negara acap kali menyandang stigma negatif sebagai pihak yang gemar menghambur-hamburkan uang rakyat. Kesan serupa juga muncul di Tanzania, sebuah negara di Afrika Timur. Namun hal tersebut coba diubah oleh John Magufuli, presiden Tanzania yang sudah menjabat sejak tahun 2015.
Magufuli mengumumkan kalau dirinya hanya menerima gaji bulanan sebesar 9 juta shilling atau setara kurang lebih 53 juta rupiah. Jumlah tersebut hanya sepertiga dari jumlah gaji yang diterima oleh Jakaya Kikwete, presiden Tanzania yang sebelumnya.
?Saya tidak menambah gaji saya dan tidak akan menaikkan gaji saya sendiri. Karena kewajiban saya adalah melayani Tanzania terlebih dahulu. Rakyat sudah muak melihat uang mereka dicuri,? kata Magufuli seperti yang dikutip oleh Al Jazeera.
Saat masih belum menjabat sebagai Presiden, Magufuli memang sudah lama dikenal dengan reputasinya sebagai sosok yang menentang praktik korupsi dan pemborosan di pemerintahan. Ia juga disanjung karena mendorong pembangunan besar-besaran jalan raya saat masih menjadi menteri di kabinet pemerintahan sebelumnya.
Gebrakan Magufuli terus berlanjut saat ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia memerintahkan agar jumlah kunjungan ke luar negeri yang dilakukan oleh anggota pemerintahan dibatasi. Bulan April lalu, ia juga memecat 10 ribu pegawai negeri dengan alasan mereka tidak memenuhi standar pendidikan dan membebani anggaran negara.
Tanggapan yang diberikan publik Tanzania kepada pengumuman terbaru Magufuli sendiri cukup beragam. Detrick Kaijanangoma yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Dar Es Salam memuji Magufuli yang menurutnya bersikap transparan dan mencoba memimpin dengan cara memberikan contoh positif.
Namun tanggapan negatif juga turut timbul. Menurut Deodatus yang sehari-harinya berprofesi sebagai supir taksi, gaji yang diterima Magufuli masih terlampau tinggi. Pasalnya sebagai presiden, ia dan keluarganya bisa menikmati fasilitas negara tanpa perlu menggunakan uang dari gajinya.
