Bernas.id ? Musibah ledakan reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina memang sudah lama berlalu. Namun, jejak dari musibah tersebut masih dapat dijumpai hingga sekarang. The National Post mengabarkan kalau babi-babi liar yang terkontaminasi oleh sisa bahan radioaktif dari reaktor Chernobyl sekarang berkeliaran di Swedia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ulf Frykman, seorang konsultan lingkungan Swedia. Ia menjelaskan kalau pemeriksaan yang dilakukan pada bangkai babi liar di Tarnsjo menunjukkan kadar radioaktif yang 10 kali lebih tinggi di atas ambang batas aman kadar radioaktif.
Frykman kemudian menambahkan kalau pola makan babi liar menyebabkan hewan tersebut memiliki kadar radioaktif yang lebih tinggi dibandingkan hewan-hewan lain. Pasalnya seusai terjadinya bencana nuklir Chernobyl, debu radioaktif yang mengandung elemen kaesium kemudian terlepas ke udara sebelum kemudian menyebar dan mengendap di tanah.
Karena babi liar memiliki kebiasaan mengais-ngais tanah saat mencari makan, kadar radioaktif yang ada dalam tubuh babi liar pun secara berangsur-angsur mengalami peningkatan. Hewan-hewan lain semisal rusa tidak menghadapi resiko serupa karena mereka mendapatkan makanannya dari dedaunan semak yang berada jauh di atas tanah.
Beredarnya kabar tersebut lantas ganti menuai kekhawatiran dari kelompok pemburu dan petani lokal. Menurut asosiasi petani setempat, kabar ini akan membuat penduduk setempat tidak mau lagi berburu babi lokal. Dampaknya populasi babi liar akan meningkat tak terkendali sehingga kawasan ladang setempat menjadi lebih rawan mengalami kerusakan.
Insiden ledakan reaktor Chernobyl terjadi pada tahun 1986 saat Uni Soviet masih berdiri. Akibat insiden ini, setidaknya 32 orang tewas dan ribuan lainnya terkontaminasi oleh bahan radioaktif. Dampak dari insiden ini juga turut dirasakan di luar Uni Soviet karena debu radioaktif yang terlepas ke udara diterbangkan oleh angin hingga sejauh Eropa Barat.
