Bernas.id – Marah adalah ekspresi yang wajar muncul dari seseorang. Kemunculan ekspresi ini kadang dapat dihindari, kadang juga tidak. Ekspresi ini muncul disebabkan tekanan baik yang bersifat fisik, psikis maupun moralitas.
Chaplin, dalam “Dictionary of Psychology” menyebutkan bahwa marah adalah reaksi emosional akut yang muncul karena sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, serangan fisik dan verbal, pengekangan diri, rasa kecewa dan frustasi. Marah tidak berhubungan dengan unsur genetik. Bukan berarti seseorang yang memiliki orang tua pemarah, juga secara otomatis menjadi pemarah.
Seorang individu merespon rasa marah dengan lima perilaku ini:
1. Assertion, yaitu kemarahan yang diungkapkan dengan baik. Cara ini meminimalisir konflik.
2. Frustasi, hal ini akan muncul saat seseorang gagal mengekspresikan kemarahannya.
3. Pasif, sikap ini menunjukkan seseorang yang tidak mampu menunjukkan atau menyatakan kemarahannya.
4. Agresif, dengan respon ini berarti seorang individu melakukan tindakan destruktif yang masih terkontrol.
5. Mengamuk, dengan cara ini seseorang kehilangan kontrol diri. Ia mungkin melukai dirinya atau orang lain, atau merusak benda dan lingkungan.
Selain melalui respon yang diberikan, kemarahan seseorang juga dapat dilihat dari ciri-ciri seperti: gerakan tubuh tidak terkendali, tubuh bergetar hebat, hidung kembang kempis, bola mata memerah. Selain itu, ia juga kadang mengucapkan kata-kata kasar dan melukai orang lain.
Selain itu, saat marah hati kita menjadi tidak tenang, benci, dendam dan suka melihat penderitaan orang lain.
